3 November 2020

Opini: Kolaborasi Ekonomi Kreatif

Hingga tulisan ini selesai dibuat, masih saja belum terdengar riuh dan gegap gempita, kapan wabah pandemi Covid-19 ini akan mereda dan benar-benar hilang. Meski situasi seperti ini seringkali membuat kita dilingkupi perasaan bingung, dan jengkel. Sebagai individu merdeka yang dikaruniai akal, malu rasanya jika diri ini memilih untuk menyerah saja, untuk kemudian berputus asa pada keadaan.

Di tengah maraknya sektor usaha yang terdampak, dan terhambat penetrasinya dikarenakan pandemi Covid-19. Dalam situasi seperti sekarang, sangat diperlukan ide-ide brilian serta jalan alternatif, yang tentunya dapat menjadi solusi bagi para pelaku usaha. Skala paling minimal adalah, usaha mereka dapat terus bertahan, atau malah menjadi kebal terhadap goncangan krisis yang hingga kini masih melanda.

Ekonomi kreatif sebagai sebuah konsep ekonomi baru berbasis kreativitas, menurut John Howkins adalah sebuah kegiatan ekonomi yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menghasilkan ide. Menghasilkan sebuah ide merupakan hal yang harus terus dilakukan untuk kemajuan. Oleh karenanya, konsep ekonomi kreatif dirasa harus terus dibangkitkan geliatnya, dikarenakan faktor utama dari ekonomi kreatif adalah sisi kreativitas yang tercipta pada alam pikiran kita sendiri.

Memang jika dipikir secara singkat, sebuah gagasan dan pemikiran untuk mengembangkan ekonomi kreatif, akan kalah jika dihadapkan pada persoalan mengenai sumber modal dan sumber pembiayaan. Hal ini tidak semata-mata karena sumber modal dan pembiayaan itu tidak ada, melainkan pada situasi serba darurat, terkadang modal dan aset yang telah dimiliki, alokasinya untuk sementara waktu diubah menjadi hal yang lebih primer, seperti makan dan kebutuhan sehari-hari.

Situasi dan kondisi di masa darurat seperti saat ini, memaksa kita para pelaku ekraf untuk sama-sama merasakan apa yang teman-teman kita rasakan juga. Oleh karenanya, diperlukan mental yang kuat, serta semangat kolaborasi antar subsektor ekraf yang harus semakin ditingkatkan. Sudah saatnya kita tidak dirundung kebingungan, atau stagnan bertahan mempertahankan gengsi.

Ekonomi kreatif, dengan 17 subsektor yang dikembangkannya menurut Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sangat memiliki banyak potensi kolaborasi antar subsektor. Kolaborasi ini tentunya dapat kita gunakan sebagai pembuka kunci, mendapatkan kembali pundi-pundi penghasilan. Entah kolaborasi tersebut hanya bertujuan untuk bertahan sementara waktu, atau bahkan dengan pilihan yang lebih visioner.

Selain berkolaborasi dari segi ide dan inovasi, diperlukan pula kesadaran tinggi dari para subsektor untuk lebih menumbuhkan budaya tolong-menolong, budaya gotong-royong, serta rasa empati. Nilai-nilai kemanusiaan seperti ini sangatlah diperlukan bukan hanya dalam situasi dan kondisi seperti saat ini, melainkan harus sudah menjadi spirit dalam jiwa, dan menjadi identitas kita sebagai sesama umat manusia yang tetap berjuang.

Boleh saja muncul rasa ingin maju sendiri, terutama jika memang kita saat ini ada di posisi yang lebih beruntung dibanding individu lainnya. Namun jika rasa kemanusiaan kita di atas segalanya, serta kepedulian kita kepada para pelaku ekraf yang sama-sama berjuang terlampau besar, rasanya hasrat ingin maju bersama akan menjadi prioritas yang lebih dikedepankan.

Ada baiknya kita yang masih memiliki cukup banyak ide dan inovasi, turut serta membagikan hasil pemikiran kita ini kepada para pelaku ekraf lain yang sedang kehabisan ide dan inovasinya. Pun sebaliknya, ada baiknya jika kita yang saat ini memiliki sumber daya modal berlebih, kita rangkul rekan kita yang saat ini membutuhkan modal pembiayaan, untuk dapat berkolaborasi serta berkomitmen untuk sama-sama bangkit.

Karena tidak menutup kemungkinan, di luaran sana masih tersisa orang-orang yang memiliki sumber daya modal yang cukup, namun memang bingung akan mengoptimalkan modal usahanya ini. Justru inilah peluang dari kita sebagai pelaku ekraf untuk bisa hadir, dan sama-sama membuat sebuah konsep kolaborasi yang saling menguntungkan.

Kolaborasi antar subsektor haruslah semakin terjalin. Kolaborasi bisa hadir dalam bentuk apapun, tak terkecuali budaya saling promosi. Sudah saatnya terlahir ekosistem  yang baik, terutama untuk dapat saling mempromosikan hasil kreasi antar subsektor ekraf.

Sebuah kolaborasi tak melulu harus tercipta antar subsektor ekraf, jika kita adalah seorang konsumen, tak ada salahnya kita bantu promosikan kembali barang dagangan yang telah kita beli. Karena selain dari sudut pandang para subsektor ekraf, rasa kemanusiaan dalam bentuk apapun diharapkan akan selalu muncul dalam kehidupan kita bermasyarakat.

Budaya saling bantu tempo hari ini, adalah salah satu upaya agar para pelaku ekraf dapat kembali semangat dalam berkarya, serta kepuasan batin yang akan timbul kala melihat usaha dari rekan-rekan kita tetap dapat bertahan.

Dimuat di Tribun Jateng, 26 Oktober 2020.


21 October 2020

Bandung Creative Hub Zine - Volume 10




Pemimpin Redaksi:

Rizki Sanjaya


Editor:

Rizki Sanjaya


Kontributor:

Horror Rudey

Nadifa Prada Anggraini

Vanya Sitar

Youssi Jelina Mutiara


Dokumen Gambar:

Arsip BCH


Ilustrator:

Moch. Dio Putra


Desain Sampul:

Desy Andriani


Penata Letak:

Rizki Sanjaya Masbox


creativehub.bdg zine! Volume. 10

Bandung Creative Hub

Jalan Laswi No. 7, Kacapiring, Kota Bandung 40271


Zine! Ini gratis, silakan unduh dan perbanyak

20 October 2020

Bandung Creative Hub Zine - Volume 09




Pemimpin Redaksi:

Rizki Sanjaya

 

Editor:

Rizki Sanjaya

 

Kontributor:

Desy Andriani

Horror Rudey

Rifa Nursofia Zulfiani

Vanya Sitar

 

Dokumen Gambar:

Arsip BCH

 

Ilustrator:

Moch. Dio Putra

 

Desain Sampul:

Desy Andriani

 

Penata Letak:

Rizki Sanjaya Masbox

 

creativehub.bdg zine! Volume. 09

Bandung Creative Hub

Jalan Laswi No. 7, Kacapiring, Kota Bandung 40271

 

Zine! Ini gratis, silakan unduh dan perbanyak

19 October 2020

Bandung Creative Hub Zine - Volume 08


Pemimpin Redaksi:

Rizki Sanjaya

 

Editor:

Rizki Sanjaya

 

Kontributor:

Desy Andriani

Horror Rudey

Rifa Nursofia Zulfiani

Vanya Sitar


Dokumen Gambar:

Arsip BCH

 

Ilustrator:

Moch. Dio Putra


Desain Sampul:

Desy Andriani

 

Penata Letak:

Rizki Sanjaya Masbox


creativehub.bdg zine! Volume. 08

Bandung Creative Hub

Jalan Laswi No. 7, Kacapiring, Kota Bandung 40271

 

Zine! Ini gratis, silakan unduh dan perbanyak.


30 September 2020

Bandung Creative Hub Zine - Volume 07




Pemimpin Redaksi:

Rizki Sanjaya

 

Editor:

Rizki Sanjaya

 

Kontributor:

Desy Andriani

Horror Rudey

Rifa Nursofia Zulfiani

Vanya Sitar


Dokumen Gambar:

Arsip BCH

 

Ilustrator:

Moch. Dio Putra


Desain Sampul:

Moch. Dio Putra

 

Penata Letak:

Rizki Sanjaya Masbox


creativehub.bdg zine! Volume. 07

Bandung Creative Hub

Jalan Laswi No. 7, Kacapiring, Kota Bandung 40271

 

Zine! Ini gratis, silakan unduh dan perbanyak.


24 August 2020

Bandung Creative Hub Zine - Volume 06

 

Pemimpin Redaksi:

Rizki Sanjaya

 

Editor:

Rizki Sanjaya

 

Kontributor:

Desy Andriani

Horror Rudey

Vanya Sitar

 

Ilustrator:

Moch. Dio Putra

 

Desain Sampul:

Desy Andriani

 

Penata Letak:

Rizki Sanjaya Masbox

 

creativehub.bdgzine! Volume. 06

Bandung Creative Hub

Jalan Laswi No. 7, Kacapiring, Kota Bandung 40271

 

Zine! Ini gratis, silakan unduh dan perbanyak.


Bandung Creative Hub Zine - Volume 05

 

Pemimpin Redaksi:

Rizki Sanjaya

 

Editor:

Rizki Sanjaya

 

Kontributor:

Desy Andriani

Horror Rudey

Vanya Sitar

 

Ilustrator:

Moch. Dio Putra

 

Desain Sampul:

Moch. Dio Putra

 

Penata Letak:

Rizki Sanjaya Masbox

 

creativehub.bdgzine! Volume. 05

Bandung Creative Hub

Jalan Laswi No. 7, Kacapiring, Kota Bandung 40271

 

Zine! Ini gratis, silakan unduh dan perbanyak.


Bandung Creative Hub Zine - Volume 04

Pemimpin Redaksi:

Rizki Sanjaya

 

Editor:

Rizki Sanjaya

 

Kontributor:

Desy Andriani

Horror Rudey

Ismi Aulia

Vanya Sitar

 

Fotografer:

Moch. Dio Putra

 

Halaman Tengah:

Moch. Dio Putra

 

Desain Sampul:

Rizki Sanjaya

 

Penata Letak:

Rizki Sanjaya Masbox

 

creativehub.bdgzine! Volume. 04

Bandung Creative Hub

Jalan Laswi No. 7, Kacapiring, Kota Bandung 40271

 

Zine! Ini gratis, silakan unduh dan perbanyak.

 

Bandung Creative Hub Zine - Volume 03


Pemimpin Redaksi:

Rizki Sanjaya

 

Editor:

Rizki Sanjaya

 

Kontributor:

Horror Rudey

Indah Nur Rizka

 

Fotografer:

Aditya Fazar Sanjaya

Salman Haryanto

 

Sampul Depan:

Rizki Sanjaya

 

Sampul Belakang:

Moch. Dio Putra

 

Penata Letak:

Rizki Sanjaya Masbox

 

creativehub.bdgzine! Volume. 03

Bandung Creative Hub

Jalan Laswi No. 7, Kacapiring, Kota Bandung 40271

 

Zine! Ini gratis, silakan unduh dan perbanyak.


Bandung Creative Hub Zine - Volume 02

 


Pemimpin Redaksi:

Rizki Sanjaya

 

Editor:

Rizki Sanjaya

 

Reporter:

Ghulam Shabirrahman

Renna Maya Dwi Cahyati

 

Kontributor:

Horror Rudey

 

Fotografer:

Aditya Fazar Sanjaya

 

Desain Sampul:

Rizki Sanjaya

 

Penata Letak:

Rizki Sanjaya Masbox

 

creativehub.bdgzine! Volume. 02

Bandung Creative Hub

Jalan Laswi No. 7, Kacapiring, Kota Bandung 40271

 

Zine! Ini gratis, silakan unduh dan perbanyak.

Bandung Creative Hub Zine - Volume 01


Pemimpin Redaksi:

Rizki Sanjaya

 

Editor:

Rizki Sanjaya

 

Reporter:

Ghulam Shabirrahman

Renna Maya Dwi Cahyati

 

Kontributor:

Horror Rudey

Anggi Dwisya Marcelina

 

Fotografer:

Aditya Fazar Sanjaya

 

Desain Sampul:

Zahra Nur Maulidia

Defira Febrianty Alfitri

 

Penata Letak:

Rizki Sanjaya Masbox

 

creativehub.bdgzine! Volume. 01

Bandung Creative Hub

Jalan Laswi No. 7, Kacapiring, Kota Bandung 40271

 

Zine! Ini gratis, silakan unduh dan perbanyak.

Ketupat Selain Sebagai Makanan

Taqabbalallahu minnaa wa minkum, selamat berlebaran untuk sobat kreatif di mana pun kalian berada. Semoga pada hari kemenangan yang baru saja berlalu beberapa hari kemarin, kita dapat sama-sama mencapai fitrah-Nya, serta senantiasa mendapat manfaat dari segala proses yang sudah sama-sama kita tempuh sebelumnya.

Ngomong-ngomong tentang lebaran, kali ini tim redaksi ingin membahas tentang makanan yang umum kita temui pada saat momen berlebaran. Sebuah makanan yang mungkin juga sering kita temukan di luar hari raya, namun dirasa sangat spesial jika kehadirannya ada di momen hari raya. Langsung saja kita bahas tentang ketupat.

Ketupat yang sering kita makan pada momen hari raya bersama keluarga ini adalah sebuah makanan utama yang tentunya sering tersaji di meja makan kita. Ketupat yang terbuat dari beras dan dimasukkan ke dalam anyaman yang terbuat dari daun kelapa ini, adalah pengganti dari nasi yang umumnya menjadi aktor utama pada keseharian makan bagi mayoritas masyarakat di Indonesia.

Cara pembuatannya pun cukup sederhana, beras yang telah dibersihkan tinggal kita masukkan pada sela-sela anyaman ketupat, lalu kemudian ditutup rapat. Oh iya, beras yang dimasukkan ke dalam anyaman tersebut jangan dibuat penuh ya, karena nantinya akan mengembang dengan sendirinya. Cukup dimasukkan 70% saja dari kapasitas anyaman ketupat tersebut.

Selanjutnya anyaman ketupat yang telah diisi oleh beras siap untuk direbus pada didihan air selama lebih-kurang enam jam lamanya, atau lamanya bisa diatur sesuai selera jika ingin mendapat tekstur yang digemari oleh masing-masing.

Ketupat yang telah masak nantinya akan menghasilkan tekstur nasi yang padat, hampir-hampir mirip dengan lontong. Yang membedakan ketupat dengan lontong adalah aroma dari daun kelapa yang sudah menguning, dan tentunya tidak bisa ditemui pada lontong. Karena lontong biasanya dibungkus dengan daun pisang, bukan daun kelapa.

Cara penyajiannya, ketupat yang telah masak bisa digantung terlebih dahulu sebelum disajikan agar air rebusan menetes. Jika ingin langsung dimakan, ketupat dapat dipotong-potong seukuran satu suap sendok makan, kemudian dilengkapi hidangan lainnya sesuai adat dan kebiasaan di daerah masing-masing.

Masih berbicara tentang ketupat, selain tentunya kita nikmati sebagai makanan, boleh juga kita nikmati sebagai sebuah filosofi hingga mencari tahu asal-usulnya. Agar tak hanya hasrat mengenyangkan perut yang dominan, namun asupan pada otak pun sama-sama kita buat kenyang sekalian.

Dilansir dari historia.id dalam tulisan yang berjudul “Mengunyah Sejarah Ketupat”, tradisi makan ketupat ternyata sudah hidup sekira 5 abad lamanya di Nusantara. Awalnya tradisi makan ketupat ini dijadikan simbol perayaan pada hari raya Islam di masa pemerintahan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa, yaitu Kerajaan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah.

Menurut H.J. de Graaf masih dari historia.id, muncul dugaan bahwa kulit ketupat yang terbuat dari janur pohon kelapa ini memiliki fungsi sebagai penunjuk identitas budaya khas pesisiran yang banyak ditumbuhi pohon kelapa. Oleh de Graff juga hal tersebut dimaknai sebagai upaya masyarakat pesisir di Jawa untuk menjadikannya simbol, dan untuk kemudian dapat dibedakan dengan warna hijau dari Timur Tengah dan merah dari Asia Timur.

Terkait penyebaran ketupat yang dapat merata dan tetap dikenal hingga saat ini, ada peran besar dari Walisongo di dalamnya. Peran dari Walisongo inilah, terutama Raden Mas Sahid yang memiliki panggilan Sunan Kalijaga dalam mengakulturasi budaya dengan memperkenalkan dan memasukkan simbol ketupat sebagai bagian dari penyebaran agama Islam.

Kata ketupat sendiri berasal dari kata “kupat”, yang mana adalah akronim dari “ngaku lepat” (dapat dilihat pada Kamus Pepak Basa Jawa dari Slamet Mulyono) dengan arti mengaku bersalah. Sedang anyaman daun kelapa ini adalah “janur” yang berasal dari akronim “jatining nur” yang memiliki arti hati nurani. Isian ketupat yang diisi oleh beras dapat dimaknai sebagai nafsu duniawi, hingga kesimpulan dari keseluruhannya dapat dilambangkan sebagai nafsu dunia yang dibungkus dengan hati nurani.

Ternyata ketupat yang selama ini kita makan memiliki makna dan filosofi yang cukup dalam. Dalam tiap kunyahan yang masuk ke dalam mulut, terdapat banyak simbol kebaikan yang tentunya dapat kita maknai juga dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

Semoga selain dapat menjadi menu sajian utama pada saat berhari raya, kita juga dapat mengamalkan makna yang terkandung dalam ketupat yang kita makan tersebut. Tentunya harus dengan porsi seimbang ya, secukupnya, jangan sampai berlebihan.

Bandung, 28 Mei 2020.


Refleksi 75 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia

“Tujuh belas Agustus tahun empat lima, itulah hari kemerdekaan kita” demikian adalah dua kalimat pembuka dari salah satu lagu nasional berjudul “Hari Merdeka” karangan Husein Mutahar. Lagu “Hari Merdeka” adalah sebuah lagu yang umum kita temui kala memasuki momen perayaan kemerdekaan Republik Indonesia di setiap tahunnya, entah lagu itu diputar dalam bentuk digital, maupun dinyanyikan secara serempak dalam sebuah karnaval perayaan kemerdekaan Republik Indonesia.

Berbicara tentang perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, khususnya di tahun 2020 ini, adalah berbicara juga tentang menahan sebuah pola rutinitas tahunan, yang telah terselenggara selama puluhan tahun lamanya. Rutinitas merayakan kemerdekaan yang larut dalam nuansa sukacita dan hingar bingar. Dan rutinitas kegiatan yang menghimpun kerumunan banyak orang, serta ragam atraksi perlombaan gerak tubuh, yang diusahakan memiliki makna dan filosofi mengenang masa-masa perjuangan para pahlawan dalam memerdekakan republik ini.

Di usianya yang genap 75 tahun pada 2020 ini, tak dinyana turut hadir sebuah ironi. Telah sama-sama kita ketahui jika sebuah wabah tak kasat mata bernama Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), yang juga menyisakan banyak dampak negatif bagi berbagai pihak, hadir ke Republik ini hanya beberapa bulan saja sebelum Republik Indonesia menggenapkan usianya menjadi 75 tahun.

Bagaimana dengan perayaan kemerdekaan tahun ini? Apa boleh buat, situasi dan kondisi berkata demikian. Mungkin di balik ini kenyataan ini semua tersembunyi sebuah solusi untuk saling menguatkan, kala ketakberdayaan menjadi cara untuk menuju sebuah persatuan. Bukankah untuk menuju sebuah kemerdekaan diperlukan sebuah perjuangan yang besar? Kiranya dalam kondisi seperti saat ini sekalipun, rasa optimis harus selalu hadir kepada kita semua. Selain juga harus mau saling berintrospeksi dan mawas diri.

Tampil beda, mungkin adalah satu penawaran yang cukup pas untuk memaknai perayaan kemerdekaan pada situasi dan kondisi seperti sekarang ini. Tampil beda adalah padanan frase yang berfungsi untuk menunjukkan sesuatu nampak berlainan dibanding biasanya. Berlainan di sini dapat pula kita maknai dengan pengalihfokusan kebiasaan yang lama (beramai-ramai) kepada kebiasaan yang baru (menjauhi keramaian). Jika dulu perayaan kemerdekaan seakan-akan harus dirayakan secara tatap muka dan berkumpul dalam ruang yang tak kosong, kini ada baiknya peran ruang tersebut kita alihkan kepada ruang virtual terlebih dahulu.

Selain kebiasaan beramai-ramai yang perlu tampil beda, sarana pengekspresian diri pun tentu dapat dialihfungsikan juga. Jika perayaan kemerdekaan sebelum-sebelumnya sering dimaknai dengan aneka macam perlombaan dalam sebuah arena, kini perlombaan tersebut dapat kita alihkan kepada hal yang lebih bernilai konkret, seperti lomba-lomba kekaryaan pada membuat desain grafis, karya tulis, olahan seni suara, serta aneka ragam kesenian lainnya yang tentunya diberi tema dan filosofi perjuangan kemerdekaan, serta hasilnya harus bisa dinikmati publik secara luas.

Akan  menjadi kurang elok rasanya jika momen khidmat perayaan kemerdekaan ini hanya dijadikan ajang untuk berdiam diri, mengumpat, serta terus-menerus meratapi keadaan. Sebagai makhluk yang dikaruniai akal oleh Tuhan Yang Maha Esa, mungkin ini adalah salah satu momen terbaik untuk memaksimalkan setiap potensi yang kita miliki, mencari jalan pemecahan dari setiap persoalan, hingga kita dapat bangkit kembali.


13 May 2020

@historyofpersib: Milangkala 87 Tahun Persib Bandung

Kecintaan Tanpa Pamrih Ini Hanya Sebuah Angka
Rizki Sanjaya

(Sampul: @historyofpersib - Milangkala 87 Tahun Persib Bandung)

Mencintai adalah hak bagi seluruh makhluk yang masih hidup. Setiap makhluk yang bernyawa tentu berhak untuk mencintai dan menyatakan ikrar cintanya. Baik secara tersurat maupun tersirat. Selama nafas dan pikirannya masih tetap terjaga.

Mencintai adalah cara menaruh kasih sayang. Sedang objek yang dicintai, tentu tak berbatas pada makhluk yang hidup saja. Semua hal tentu dapat kita cintai, sifatnya tak berbatas ruang dan waktu, menembus dinding dimensi tempat di mana kita hidup saat ini.

Tentu sah saja jika kita tetap mencintai orang yang telah mati, baik yang pernah kita kenal bahkan tidak. Lebih absurd lagi, bukan hanya yang pernah kita ketahui wujudnya, mencintai sesuatu yang masih dalam benak dan khayal sekalipun, tak ada larangan dan batasan hukum yang mengikatnya.

Sebagai sebuah klub sepakbola, Persib telah jauh melampaui bab tentang cinta. Sebuah cinta yang tak bisa dimiliki oleh seseorang saja. Semakin banyak yang mencintai, semakin tenang hati ini. Karena cinta ini memang tercipta untuk dimiliki bersama. Cinta yang dimiliki oleh rakyat sebagai simbol dan alat juang.

Persib yang melegitimasikan dirinya berdiri pada 14 Maret 1933, hanyalah tim sepakbola yang dilahirkan di tempat dengan jumlah populasi manusia yang masih sedikit saja pada waktu itu. Hal ini lebih dikarenakan, Kota Bandung pada masa lalu hanyalah sebuah telaga yang dikelilingi oleh pegunungan yang lama kelamaan volume airnya berkurang dan mengering.

Sebuah buku berjudul Gementee Bandoeng yang terbit pada masa pemerintahan kolonial Belanda memuat sebuah data sensus penduduk di masa pemerintahannya pada tahun 1919. Dijelaskan dalam sebuah tabel bahwa pada tahun 1919 Kota Bandung hanya didiami oleh 7900 orang saja, itu pun Europeanen, tidak diceritakan tentang orang lokal pada saat itu. Loncat ke tahun 1931, di mana adalah tahun yang paling dekat dengan tanggal didirikannya Persib, per 1 Januari 1931 dijelaskan ada peningkatan signifikan terkait orang-orang yang mendiami Kota Bandung, pada tahun ini sudah ada orang-orang yang dikategorikan pribumi oleh pemerintahan kolonial pada saat itu, berikut jumlah populasinya: 19.327 bangsa Europeanen, 16.690 bangsa Chineezen, dan 129.871 Inlanders (sebutan olok-olok kolonial terhadap orang lokal).

Melihat dari data di atas, tentunya ada peningkatan yang sangat signifikan terhadap populasi penduduk di Kota Bandung pada masa kini. Menurut data yang dihimpun dari Database SIAK Provinsi Jawa Barat Tahun 2011, Kota Bandung didiami oleh 2.536.649 orang, bahkan jika dihitung dengan kategori Bandung Raya (Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi) jumlahnya menginjak 8.670.501 penduduk. Sebuah jumlah yang fantastis untuk gambaran kasar besarnya potensi dari wilayah Bandung Raya ini.

Namun semua data tersebut hanyalah angka. Tentu cinta tak melulu soal matematika. Bahkan harusnya ilmu tentang bilangan itu kita kesampingkan saja dalam praktik cinta. Akan menjadi pamrih tentunya jika kita berbicara matematika terhadap cinta. Namun lain dulu, lain sekarang. Begitu pun bentuk dan penilaian cinta kita terhadap Persib, sekarang semuanya serba matematika.

Dasarnya tentu saja karena Persib kini sudah tidak dibiayai lagi oleh anggaran pendapatan daerah. Persib yang kini pengelolaannya di bawah PT. Persib Bandung Bermartabat –selanjutnya PT. PBB– telah menobatkan dirinya menjadi sebuah perusahaan yang mandiri dalam pembiayaan. Hal ini tentu saja membuat Persib harus terus berpikir maju ke depan, karena diam sebentar saja tentu akan membuat namanya tenggelam di pasaran.

Beruntung sekali Persib dilahirkan di Kota Bandung, kota yang menjadi ibu kota provinsi dengan populasi terbesar di Indonesia. Selain kelebihan itu, lagi-lagi Persib beruntung lahir di Provinsi Jawa Barat, di mana hanya ada satu klub yang sangat dominan berdiri tegak selama 76 tahun lamanya pada saat PT. PBB resmi berdiri. Belum lagi aspek kegemilangan prestasi Persib di era sebelum 2009, 5 kali menjadi yang terbaik dalam gelaran Piala Perserikatan dan 1 kali menjadi kampiun di Liga Indonesia adalah prestasi yang hanya sedikit sekali klub bisa menyamainya.

Lagi-lagi keberuntungan membayangi PT. PBB sebagai pemilik sah klub Persib, selain ditunjang aspek historis, Persib pun memiliki aset yang tentunya adalah berkah dan karunia terhadap Persib itu sendiri. Sulit untuk menakar sejauh mana kecintaan rerata bobotoh Persib terhadap klub yang dicintainya. Jangankan untuk membuat rataannya, bahkan tidak ada sumber terpercaya berisi sensus yang bisa memuat jumlah bobotoh Persib secara menyeluruh. Sebagai gambaran, coba sedikit bayangkan, ketika jutaan orang memiliki beragam cara dalam penyampaian rasa cintanya. Ketika berbicara sumber data, cukup lemparkan saja hasil sensus penduduk terbaru, bandingkan juga dengan rata-rata rating ketika Persib siaran langsung di televisi. Kiranya dari hasil mentah tersebut bisa memberi gambaran jika jumlah bobotoh Persib itu memang benar ada di angka jutaan.

Tak sedikit dari jutaan bobotoh Persib tersebut mengambil sisi paling ekstrem dalam hidup, yakni ikrar Persib sampai mati. Sebuah pakem yang paling diyakini dan dijunjung tinggi oleh orang-orang yang terlalu mencintainya. Satu ikrar yang akan menemani hidup mereka selama puluhan tahun bahkan hingga senja di akhir usia nampak. Namun meski ikrarnya sama, pada hakikatnya ikrar tersebut tak bisa diseragamkan bobot takarannya. Semakin orang tersebut bertahan, akan semakin terlihat jelas konsistensi dan kecintaan mereka terhadap Persib. Sebuah pengorbanan panjang yang melibatkan keteguhan hati.

Kecintaan terhadap Persib tentu bukan hanya buah bibir semata. Di usia yang kini menginjak 87 tahun, rasanya Persib hampir mencapai semua tujuan dan harapannya. Karena acuan sebuah klub sepakbola hanya berbatas pada kecintaan dan prestasi yang diraihnya. Bahkan prestasi saya rasa hanya nomor kesekian, karena sudah berapa kali Persib mengulang puasa gelarnya yang berlangsung bertahun-tahun, namun kecintaan bobotoh pada benda mati ini tak pernah ada kedaluwarsanya.

Angka 87 tahun bukanlah waktu sebentar bagi sebuah klub sepakbola. Tak sedikit kita mendengar sebuah klub sepakbola bubar, bahkan dibubarkan. Alasannya entah karena masalah finansial, penjajahan, perang, bahkan diberangus rezim. Tapi Persib selalu bisa bangkit bahkan memaknai zaman. Nyatanya Persib terus eksis dan kokoh melintasi bias kepemimpinan, bias peristiwa, dan bias kepentingan.

Tak adil jika hanya menyebut keberuntungan dan poin plus yang didapat PT. PBB ketika pertama mengakuisisi kepemilikan dari Persib. Tentu ada keringat dan kerja keras yang tidak sedikit dari para pemilik saham Persib saat ini. Tapi bukankah pada akhirnya semua keuntungan yang didapat adalah untuk kalian dan PT. PBB juga?

Sedikit merawat sejarah, tak bisa dipungkiri bahwa sejak berdirinya Persib hingga satu tahun sebelum berdirinya PT. PBB, Persib terlahir dan berjalan sebagai klub rakyat. Lebih-kurang selama 76 tahun, atau sejak tahun 1933 hingga 2009 rasa memiliki terhadap Persib sangatlah maksimal dirasakan oleh bobotoh. Hal ini menjadi jelas karena Persib di era Perserikatan hingga era Ligina memang dibiayai oleh rakyat. Maka bobotoh pada masa itu tak sedikit pun canggung untuk mengkritik jika dirasa ada hal yang tak wajar. Dan Pemkot Bandung, sebagai yang berperan dalam kepengurusan Persib tentunya memiliki tanggung jawab moril ketika tak mau mendengar kritik dari para pemilik Persib yang sesungguhnya.

Berbanding terbalik dengan saat ini, yang mana Persib dimiliki hanya oleh sebagian orang saja. Bahkan perencanaan, strategi, dan keuntungan yang didapatkannya kini apa boleh buat bobotoh memang tak boleh tahu, karena kita memang bukan siapa-siapa dalam ruang lingkup Persib saat ini. Padahal dulunya, Persib yang coba disisihkan oleh pemerintahan kolonial Belanda karena dianggap berbahaya dan dapat menimbulkan kerumunan Inlanders berkumpul, suaranya sempat coba dipecah dengan sebuah klub tandingan elit bangsawan bernama VBBO. Persib yang sengaja dibuang ke lapangan pinggiran, nyatanya malah membuat dukungan terhadap Persib semakin masif karena basis warga non Europeanen memang banyak tinggal di pinggiran Kota Bandung saat itu.

Tapi sejarah hanyalah sejarah, kita hanya bisa merawatnya dalam ingatan, juga memaknainya dalam tindakan. Boleh saja Persib sekarang pengelolaannya dikelola oleh swasta, yang mana masyarakat memang tidak dilibatkan secara langsung dalam pembiayaan. Namun jangan juga hanya karena Persib pengelolaannya sudah dipegang oleh sebagian orang, dengan mudah juga mereka seenaknya melepas dan membiaskan sedikit demi sedikit sejarah yang terlampau mengakar di dalam benak dan ingatan orang-orang yang mencintainya.

Jangan tanya apa kontribusi dan bentuk kecintaan bobotoh terhadap Persib saat ini. Selama bobotoh masih dipakai untuk daya tawar dan dicantumkan jumlah rataannya di dalam setiap pengajuan proposal ke sponsor, sejauh itu pula kita sebagai bobotoh harus tetap merasa berperan serta memberi andil terhadap hidup dan eksisnya Persib dan PT. PBB sejauh ini.

Sungguh berbicara matematika terhadap hal yang kita cintai begitu beratnya. Tapi jika praktik hitung-hitungan angka coba ditumbuhkan di era sekarang. Maka jawaban paling logisnya adalah “Kurang-kurangi takaran mendukung Persib. Mulai kesampingkan kemilitanan terkait dukung Persib sampai mati. Perjuangkan kuliah kalian, kerja kalian, keluarga kalian. Persib tak akan menolong kalian!” Tapi percayalah, bobotoh tak sejahat itu. Karena kecintaan bobotoh terhadap Persib tak pernah mengenal istilah pamrih.

Bandung, 12 Maret 2020.