12 December 2012

Pengertian, Bentuk, dan Kategori Kata dalam Bahasa Sunda

I. KATA

Kata adalah satuan bentuk terkecil (dari kalimat) yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai makna. Kata-kata yang dibentuk dari gabungan huruf atau gabungan morfem; atau gabungan huruf dengan morfem, baru kita akui sebagai kata bila bentukan itu mempunyai makna.

Di dalam bahasa Sunda Kata atau Kecap terbagi menjadi dua, yaitu: Bentuk (Wangun) dan Kategori (Warna).


II. BENTUK

Bentuk atau Wangun terbagi menjadi empat bagian, yaitu:

1. Kata Dasar (Kecap Asal)

Kata dasar adalah kata yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai arti. Contoh: Ucing, Indung, Hayam, Sangu, Gawé


2. Kata Jadian/Kata berimbuhan (Kecap Rundayan)

Kata jadian dapat terwujud melalui kombinasi kata dasar dengan afiks. Caranya melalui proses morfemis yang disebut afiksasi. Afiks sendiri mendukung makna kategorial bagi kata dasar. Kombinasi dapat berupa; kata dasar (morfem dasar) dengan morfem terikat; atau morfem terikat dengan morfem terikat.

Afiks:

  • Prefiks. Contoh: Dicium, Dipelong, Patanya, Pagulung, Sideku

  • Infiks. Contoh: Barudak, Sarieun, Darahar, Garering, Paradet

  • Sufiks. Contoh: Sanguan, Gawéan, Cobaan, Coétan, Garisan

  • Konfiks. Contoh: Dibéakkeun, Dikamanakeun, Dikocorkeun, Padamelan, Dicaian


3. Kata Ulang (Kecap Rajékan)

Kata ulang adalah kata yang diulang, baik sebagian maupun seluruhnya. Bahasa Sunda memiliki pengulangan dua kali dan pengulangan tiga kali. Pengulangan yang ada dalam bahasa Sunda, sebagai berikut:

  1. Dwilingga

Pengulangan dengan mengulang seluruh bentuk dasar disebut dwimurni. Dalam proses morfemis dwimurni dapat berupa:

  • Dwimurni. Contoh: Aki-aki, Nini-nini. Buku-buku, Imah-imah, Méja-méja

  • Dwireka. Contoh: Tuka-téké, Bubak-babuk, Tutah-titah, Puak-paok, Cukat-cokot


  1. Dwipurwa

Dikatakan dwipurwa bila pengulangan yang terjadi pada sebagian bentuk dasar (silabe inisial diulang). Contoh: Titimang, Kukumbah, Kokoréh, Sasapu, Bobodo


  1. Trilingga (Trileka)

Trilingga adalah pengulangan dengan perubahan bunyi, dan pengulangan terjadi tiga kali. Dalam hal ini terjadi pula proses morfofonemik berupa penggantian vokal. Contoh: Hah héh hoh, Dar dér dor, Tat tit tut, Brat Brét Brot, Trang Tréng Trong, Dag dig dug, Byar byér byor.


4. Kata Majemuk (Kantétan)

Kata Majemuk adalah gabungan dua kata yang menimbulkan makna baru. Contoh: Indung Suku, Hampang Leungeun, Beurat Birit, Badak Cihéa


III. KATEGORI

Kategori atau Warna terbagi menjadi empat bagian, yaitu:

1. Nomina (Kata Benda)

Kata benda atau nomina adalah kata yang mengacu kepada sesuatu benda baik konkret maupun abstrak. Jika dicermati lebih lanjut, kata benda tidak lain dari nama benda yang diacunya. Oleh karena itu, kata benda disebut juga dengan istilah kata nama (nomina). Contoh: Sawah, Ucing, Korsi, Sapédah, Buku, Tangkal

  1. Pronomina (Kata Ganti)

Pronomina digunakan untuk mengacu kepada orang. Contoh: Naon, Saha, Mana, Iraha, Ieu, Éta

  1. Numerial (Kata Bilangan)

Numerial memiliki batasan, yakni menyuratkan fungsi numerial untuk menghitung benda. Lebih dari itu, sebenarnya angka-angka, mulai dari minus sekian sampai plus sekian, tidak lain adalah (sesuatu) benda juga. Contoh: Hiji, Dua, Tilu, Opat, Lima, Loba*, Saeutik*


2. Verba (Kata Kerja)

Kata kerja atau verba adalah kata yang menyatakan perbuatan atau tindakan, proses, dan keadaan yang bukan merupakan sifat atau kualitas. Kata kerja pada umumnya berfungsi sebagai predikat dalam kalimat. Contoh: Nembang, Nulis, Dahar, Saré, Maca, Mandi, Lumpat, Leumpang


3. Adjektiva (Kata Sifat)

Kata sifat atau adjektiva adalah kata yang berfungsi sebagai atribut bagi nomina (Kata Benda). Atribut berarti tanda atau ciri. Untuk mengenali suatu benda dan untuk membedakannya dengan benda lain, kita harus memberikan cirri, sifat, keadaan, atau identitas benda-benda itu. Contoh: Geulis, Kasép, Héjo, Mahal, Jauh, Caket, Isin, Bungah, Gancang, Seungit, Amis, Pait, Haseum, Asin, Buleud, Panas, Tiis


4. Adverbia (Kata Keterangan)

Kata keterangan atau adverbia adalah kata yang menerangkan verba, adjektiva, nomina, adverbia lain, frasa preposisional, dan juga seluruh kalimat. Letak adverbia dapat mendahului atau mengikuti kata yang diterangkan. Contoh: Pisan, Sabenerna, Téréh, Wé, Kurang, Leuwih, Ngan, Ukur, Saukur, Anyar, Cekap, Loba*, Saeutik*


Catatan: Loba* dan Saeutik* bisa masuk ke dalam dua kategori yaitu Adverbia dan Numerial.

Jatinangor, Rabu, 12 Desember 2012.


Referensi:

Djajasudarma, T.F.  & Wahid, Abdul Idat. 1987. Gramatika Sunda. Bandung: Paramaartha.

Finoza, Lamuddin. 2008. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Diksi Insan Mulia.

Kosasih, E. 2008. Ketatabahasaan Dan Kesusastraan. Bandung: Yrama Widya.




28 November 2012

Syarat Informan Untuk Penelitian Bahasa

I. Pendahuluan

Informan adalah objek penting dalam sebuah penelitian. Informan adalah orang-orang dalam latar penelitian yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Oleh sebab itu kita sangat membutuhkan Informan. tanpa seorang Informan kita tidak mungkin mendapatkan hasil atau inti dari sebuah penelitian. Informan juga harus berbentuk adjective, itu dikarenakan akan mempengaruhi valid atau tidaknya data yang kita teliti, dan hal itu pun mempengaruhi keabsahan data yang kita teliti.

Penelitian sama artinya dengan Riset, penelitian sering dideskripsikan sebagai suatu proses investigasi yang dilakukan dengan aktif, tekun, dan sistematis, yang bertujuan untuk menemukan, menginterpretasikan, dan merevisi fakta-fakta. Sumber-sumber penelitian ada banyak, tergantung apa yang ingin kita teliti. Metode dan teknik penelitiannya pun beragam, tergantung seperti apakah penelitian yang akan kita lakukan dan bagaimana jenis objek yang akan kita teliti.

Bahasa sebagai objek komunikasi perannya sangat besar dalam kehidupan, dari bahasa pula kita dapat berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Bahasa adalah, kapasitas khusus yang ada pada manusia untuk memperoleh dan menggunakan sistem komunikasi yang kompleks, dan sebuah bahasa adalah contoh dari sebuah sistem komunikasi yang kompleks.


II. Pembahasan

Seorang Informan harus memiliki beberapa syarat khusus yang harus dimiliki, diantaranya:

  1. Jujur

Seorang Informan harus bersifat Jujur, jujur disini maksudnya adalah tidak menutup-nutupi apa yang ditanyakan oleh peneliti. Kejujuran Informan sangat mempengaruhi keaslian data yang diteliti.

  1. Taat pada janji

Sebelum diadakannya penelitian, biasanya antara peneliti dan Informan sudah melakukan perjanjian tentang apa-apa saja hal yang boleh dan tidak boleh ditanyakan. Peneliti juga diharuskan menjelaskan dalam rangka apa penelitian ini dilakukan. Sehingga terjadi pengertian diantara peneliti dan Informan. Setelah kesepakatan itu tercapai barulah proses penelitian boleh diberlangsungkan.

  1. Patuh pada peraturan

Sebelum dilakukannya penelitian, seharusnya dimulai dengan pembagian peraturan antara peneliti maupun Informan. Hal ini dimaksudkan untuk tidak terjadinya ketidaksepahaman antara peneliti dan Informan pada saat sesi tanya jawab berlangsung. Apabila terjadi ketidaksepahaman bukan tidak mungkin proses tanya jawab akan berhenti di tengah-tengah, sehingga tidak mencapai hasil dari yang peneliti inginkan.

  1. Suka berbicara

Seorang peneliti yang jeli diharuskan mencari Informan yang suka berbicara, hal ini dimaksudkan agar Informan tidak sungkan-sungkan menjelaskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah peneliti buat dan sampaikan padanya. Apabila peneliti menemukan Informan yang tidak memenuhi kriteria ini, maka bukan tidak mungkin penelitian ini akan gagal, dan hanya membuang-buang waktu saja.

  1. Tidak termasuk kelompok yang bertentangan

Jelas hal ini sangat penting, apabila peneliti salah mencari Informan dan memberi pertanyaan pada orang-orang yang bertentangan dengan pertanyaan peneliti, maka dapat dipastikan penelitian itu gagal. Hal itu bisa dikarenakan sang Informan member jawaban atau penjelasan yang salah dan menyimpang, hal itu dapat merusak niat awal si peneliti, dan tentu saja keabsahannya pun tidak benar.

  1. Mempunyai pandangan tertentu tentang peristiwa yang terjadi

Poin ini sangat penting, karena tidak semua orang memiliki pandangan tertentu tentang apa yang ingin diketahui oleh peneliti. Banyak orang yang hanya asal sebut saja, mungkin dikarenakan orang itu mendengar atau mengetahui hal tersebut dari orang lain, dan malah menceritakan hal tersebut kepada peneliti. Memang hal itu tidak salah, tetapi mungkin peneliti pun kurang puas dengan jawaban Informan tersebut, sehingga peneliti harus mengulang mencari Informan lain, dan memerlukan waktu berulang-ulang.


III. Kesimpulan

Banyak sekali yang harus diketahui dan dilakukan oleh peneliti dalam menentukan Informan. Banyaknya pilihan Informan bukan berarti kemudahan bagi para peneliti, karena apabila jawaban yang diberikan Informan kepada peneliti hanya biasa-biasa saja, maka hal itu pun bisa mempengaruhi kepuasan peneliti, sehingga peneliti harus mengorbankan waktu lebih banyak dalam meneliti. Peneliti harus cermat dan tepat dalam menentukan Informan, salah memilih Informan maka hal tersebut dapat mempengaruhi keabsahan atau kevalidan data.

Jatinangor, 28 November 2012.


Referensi:

Bahasa. Melalui http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa. diakses Rabu, 28 November 2012

Riset. Melalui http://id.wikipedia.org/wiki/Penelitian. diakses Rabu, 28 November 2012

Fatimatuz Z, Maulida dan Ithariyah, Siti. Dasar Dasar Penelitian Ilmiah. Melalui http://noexs.blogspot.com/2009/11/dasar-dasar-penelitian-ilmiah.html. diakses Rabu, 28 November 2012

 


26 November 2012

Leuwi Panjang Bukan Khayalan

Mendengar nama Leuwi Panjang mungkin kita akan teringat pada sebuah terminal yang berada di daerah tengah Kota Bandung.

Sebenarnya bukan hanya terminal saja yang ada di daerah tersebut, melainkan banyak terdapat makna yang terkandung atau terdapat dalam kedua kata Leuwi dan Panjang, dan hal itu perlu kita ungkap.

Kata Leuwi dalam bahasa Sunda memiliki arti bagian sungai yang dalam atau ujung sungai, dan Panjang yang memiliki artian panjang.

Mungkin dari penjelasan di atas orang banyak pun bisa menilai apa arti dari Leuwi Panjang.

Tapi sekarang nyatanya keindahan atau sisa-sisa dari Leuwi Panjang hanya tersisa sedikit saja. Sekarang daerah Leuwi Panjang lebih dikenal dengan terminalnya. Betapa tidak? Setiap bus atau mungkin kendaraan mobil 3/4 mayoritas singgah di terminal Leuwi Panjang untuk menarik penumpang atau sekedar transit menurunkan penumpang. Bukan hanya terminalnya, Leuwi Panjang juga terkenal karena terdapat banyak sentra jajanan oleh oleh Kota Bandung sepanjang jalannya.

Sedangkan yang tersisa dari artian Leuwi Panjang mungkin hanya tersisa sedikit saja, itu bisa dilihat dari lebar Leuwi di area tengah Jalan Leuwi Panjang yang tersisa tinggal sedikit, dan bahkan keindahannya pun sudah tidak bisa kita rasakan. Hal ini berkaitan dengan kejernihan Leuwi tersebut, sekarang Leuwi tersebut hanya bagian kecil dari ratusan selokan yang ada di wilayah Kota Bandung, dan tergolong kotor.

Perlu dikaji lebih dalam mengenai asal muasal nama Leuwi Panjang, diperlukan narasumber atau sesepuh dari daerah tersebut untuk mengklarifikasi arti dan makna dari Leuwi Panjang yang sebenarnya.

Kita sebagai warga Bandung tentunya heran atas asal muasal nama jalan atau daerah tersebut. Mungkin orang seperti saya yang masih tergolong remaja akan bertanya-tanya tentang hal ini, bahkan belum tentu kedua orang tua saya pun dapat menjawabnya. Tetapi kita sebagai orang sunda khususnya orang Bandung patut bangga atas daerah-daerah yang berada di sekitar kita, masih banyaknya hal atau asal daerah yang belum terungkap, dan itu semua menjadi pekerjaan rumah kita, apakah kita mau mengungkapnya atau malah memberikan peluang ini kepada bangsa asing seperti yang sudah sudah?

Tetapi kita dapat berujar, setidaknya "Leuwi Panjang Bukan Khayalan".

Jatinangor, 26 November 2012.


18 October 2012

Metode Pengumpulan Data Bahasa


Secara garis besar Metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka, metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan. Sedangkan Data adalah, catatan atas kumpulan fakta. Data merupakan bentuk jamak dari datum, berasal dari bahasa Latin yang berarti “sesuatu yang diberikan”. Sedang Bahasa adalah, kapasitas khusus yang ada pada manusia untuk memperoleh dan menggunakan sistem komunikasi yang kompleks, dan sebuah bahasa adalah contoh dari sebuah sistem komunikasi yang kompleks.

Pengumpulan data merupakan salah satu tahapan sangat penting dalam penelitian. Teknik pengumpulan data yang benar akan menghasilkan data yang memiliki kredibilitas tinggi, dan sebaliknya. Sebab, kesalahan atau ketidaksempurnaan dalam metode pengumpulan data akan berakibat fatal, yakni berupa data yang tidak credible, sehingga hasil penelitiannya tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Penggunaan istilah ‘data’ sebenarnya meminjam istilah yang lazim dipakai dalam metode penelitian kuantitatif yang biasanya berupa tabel angka. Namun, di dalam metode penelitian kualitatif yang dimaksudkan dengan data adalah segala informasi baik lisan maupun tulis, bahkan bisa berupa gambar atau foto, yang berkontribusi untuk menjawab masalah penelitian sebagaimana dinyatakan di dalam rumusan masalah atau fokus penelitian.

Di dalam metode penelitian kualitatif, lazimnya data dikumpulkan dengan beberapa teknik pengumpulan data kualitatif, yaitu; Wawancara, Observasi, Angket, Survei, Dokumentasi dan Diskusi terfokus (Focus Group Discussion). Pilihan teknik sangat tergantung pada jenis informasi yang diperoleh.


Teknik Pengumpulan Data

Wawancara

Wawancara merupakan percakapan antara dua orang atau lebih dan berlangsung antara narasumber dan pewawancara. Tujuan dari wawancara adalah untuk mendapatkan informasi di mana sang pewawancara melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab oleh orang yang diwawancarai.

Wawancara ialah proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi dengan cara tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek penelitian. Dengan kemajuan teknologi informasi seperti saat ini, wawancara bisa saja dilakukan tanpa tatap muka, yakni melalui media telekomunikasi. Pada hakikatnya wawancara merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi secara mendalam tentang sebuah isu atau tema yang diangkat dalam penelitian. Atau, merupakan proses pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang telah diperoleh lewat teknik yang lain sebelumnya.


Observasi

Observasi sama halnya dengan Pengamatan yaitu, aktivitas yang dilakukan makhluk cerdas, terhadap suatu proses atau objek dengan maksud merasakan dan kemudian memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang sudah diketahui sebelumnya, untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan untuk melanjutkan suatu penelitian.

Observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang sangat lazim dalam metode penelitian kualitatif. Observasi hakikatnya merupakan kegiatan dengan menggunakan pancaindera, bisa penglihatan, penciuman, pendengaran, untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk menjawab masalah penelitian. Hasil observasi berupa aktivitas, kejadian, peristiwa, objek, kondisi atau suasana tertentu, dan perasaan emosi seseorang. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran riil suatu peristiwa atau kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian.


Angket

Angket atau yang lebih dikenal dengan nama Kuesioner merupakan metode penelitian yang harus dijawab responden untuk menyatakan pandangannya terhadap suatu persoalan. Sebaiknya pertanyaan dibuat dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti dan kalimat-kalimat pendek dengan maksud yang jelas. Penggunaan kuesioner sebagai metode pengumpulan data terdapat beberapa keuntungan, diantaranya adalah pertanyaan yang akan diajukan pada responden dapat distandarkan, responden dapat menjawab kuesioner pada waktu luangnya, pertanyaan yang diajukan dapat dipikirkan terlebih dahulu sehingga jawabannya dapat dipercaya dibandingkan dengan jawaban secara lisan, serta pertanyaan yang diajukan akan lebih tepat dan seragam.


Survei

Survei adalah adalah pemeriksaan atau penelitian secara komprehensif, Survei yang dilakukan dalam melakukan penelitian biasanya dilakukan dengan menyebarkan kuesioner atau wawancara, Survei lazim dilakukan dalam penelitian kuantitatif maupun kualitatif.


Dokumentasi

Dokumentasi adalah hal yang bersumber dari Dokumen. Dokumen adalah sebuah tulisan yang memuat informasi. Dan dokumen dapat dihasilkan apabila kita telah melakukan proses penelitian.


Diskusi Terfokus

Diskusi terfokus (Focus Group Discussion), yaitu upaya  menemukan makna sebuah isu oleh sekelompok orang lewat diskusi untuk menghindari diri pemaknaan yang salah oleh seorang peneliti.

Jadi bisa disimpulkan bahwa Metode Pengumpulan Data Bahasa adalah, salah satu cara bagi kita yang ingin mengenal atau mungkin mempelajari seberapa besar pengaruh dan fungsi bahasa pada suatu daerah tertentu. Dan cara untuk melakukannya lebih kurang ada 6 cara, yaitu: Wawancara, Observasi, Angket, Survei, Dokumentasi dan Diskusi terfokus. Dan cara untuk mengetahuinya tentu saja dengan cara mencari narasumber.


Referensi:

Rahardjo, Mudjia. Metode Pengumpulan Data Penelitian Kualitatif. Melalui http://mudjiarahardjo.uin-malang.ac.id/materi-kuliah/288-metode-pengumpulan-data-penelitian-kualitatif.html. diakses Kamis, 18 Oktober 2012.

Metode. Melalui http://id.wikipedia.org/wiki/Metode. diakses Kamis, 18 Oktober 2012.

Data. Melalui http://id.wikipedia.org/wiki/Data. diakses Kamis, 18 Oktober 2012.

Bahasa. Melalui http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa. diakses Kamis, 18 Oktober 2012.

Wawancara. Melalui http://id.wikipedia.org/wiki/Wawancara. diakses Kamis, 18 Oktober 2012.

Observasi. Melalui http://id.wikipedia.org/wiki/Observasi. diakses Kamis, 18 Oktober 2012.

Dokumen. Melalui http://id.wikipedia.org/wiki/Dokumen. diakses Kamis, 18 Oktober 2012.

Survei. Melalui http://id.wikipedia.org/wiki/Survei. diakses Kamis, 18 Oktober 2012.


24 September 2012

Perkembangan Dialek di Kabupaten Ciamis


Kabupaten Cirebon, Kuningan, dan Ciamis merupakan kabupaten-kabupaten yang wilayahnya berbatasan dengan wilayah Jawa Tengah. Sarana perhubungan yang menghubungkan wilayah-wilayah kabupaten itu dengan wilayah Jawa Tengah relatif baik sehingga mengakibatkan terjadinya pergaulan manusia dan terjadinya jalinan komunikasi. Salah satu alat untuk berkomunikasi ialah bahasa. Penduduk di wilayah-wilayah tersebut berkomunikasi mungkin baik dengan bahasa yang sama maupun dengan bahasa yang berbeda, dalam mempergunakan bahasa yang sama pun mereka mungkin memakai dialek yang berbeda.

Kabupaten Ciamis adalah salah satu kabupaten di Jawa Barat yang mayoritas berbahasa Sunda. Namun, karena letak geografisnya berbatasan dengan Jawa Tengah mungkin dapat kita temukan dialek yang berbeda, apalagi bila dilihat dari luasnya Kabupaten Ciamis yang mungkin sebelah Barat dan Utara menggunakan bahasa Sunda, sedang sebelah timur yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah berbahasa Jawa.

Kabupaten Ciamis terletak di daerah propinsi Jawa Barat sebelah tenggara, antara 7°40'20"-7°41'20" Lintang Selatan, dan 108°20'-108°48' Bujur Timur.

Jaraknya kurang lebih 123 km dari kota Bandung, atau kurang lebih 103 km dari kota Cirebon, atau kurang lebih 140 km dari kota Cilacap, Jawa Tengah.

Permukaan tanah Kabupaten Ciamis dapat digolongkan menjadi dua bagian. Pertama, daerah pegunungan yang merupakan tempat keluarnya mata air Citanduy dan anak-anak sungainya yang terletak di daerah Ciamis Utara dan daerah bagian barat Ciamis Selatan. Hulu aliran sungai Citanduy berupa bukit-bukit dan gunung-gunung seperti Sawal (1.746 m), dan gunung Cakrabuana (1.721 m). Kedua, daerah dataran rendah yang berawa-rawa, terletak di bagian tenggara Kabupaten Ciamis dan merupakan daerah aliran Citanduy bagian hilir.

Mayoritas penduduk Kabupaten Ciamis adalah suku bangsa Sunda yang berbahasa ibu bahasa Sunda. Di samping itu terdapat suku bangsa Jawa yang berdiam di daerah perbatasan Ciamis dan Cilacap, sepanjang daerah sungai Citanduy, mulai dari Banjar, ke sebelah selatan sampai ke Segara Anakan. Kemudian mereka menyebar ke pedalaman dan ke sepanjang pantai Ciamis Selatan. Kelompok etnis lain yang terdapat di Kabupaten Ciamis ialah WNI keturunan Cina dan keturunan Arab, yang pada umumnya mereka berdiam di kota, baik di kota-kota kecamatan maupun di kota kabupaten.

Kabupaten Ciamis memiliki 197 desa yang terletak dan tersebar di wilayah Ciamis, mungkin kita akan mendapatkan atau menemukan perbedaan dialek di berbagai desa tersebut. Dari total 197 desa, 16 desa diantaranya berbatasan langsung dengan Jawa Tengah, 10 desa berbatasan dengan Kabupaten Kuningan dan Majalengka, 36 desa berbatasan dengan kabupaten Tasikmalaya, dan 135 desa di daerah yang bukan perbatasan (Ciamis asli).

Keadaan kebahasaan di Kabupaten Ciamis sangat menarik, secara administratif wilayah Kabupaten Ciamis sebelah timur berbatasan dengan wilayah Jawa Tengah. Di daerah perbatasan timur sebelah utara, wilayah pemakaian bahasa Sunda menjorok ke dalam wilayah propinsi Jawa Tengah, melewati batas administratif. Di daerah perbatasan timur sebelah selatan terjadi hal sebaliknya. Wilayah pemakaian bahasa Sunda tidak sampai ke perbatasan administratif. Pemakaian bahasa Jawa menjorok ke dalam wilayah Jawa Barat, melewati perbatasan administratif, walaupun pemakaiannya bersifat dwi bahasa (Bahasa Campuran).

Batas administratif Kabupaten Ciamis dan Jawa Tengah di sebelah utara berada di daerah pemakaian bahasa Sunda. Batas administratif Kabupaten Ciamis dan Jawa Tengah di sebelah selatan berada di daerah dwi bahasa (Bahasa Sunda, dan Bahasa Jawa), sedangkan Desa Panyutraan dan sekitarnya merupakan wilayah dwi bahasa (Bahasa Sunda, dan Bahasa Jawa) yang belum dapat ditentukan identitasnya. Wilayah Kabupaten Ciamis lainnya dikuasai oleh pemakaian bahasa Sunda.

Selain adanya pemakaian bahasa menurut letak geografis, terdapat pula pemakaian bahasa menurut lingkungannya. William F. Mackey (1962) melukiskan adanya empat hal yang dapat memberikan kedwibahasaan, yaitu (1) tingkat kedwibahasaan, (2) fungsi, (3) alternasi, (4) interferensi. Fungsi dibagi dua yaitu fungsi internal dan fungsi eksternal. Fungsi eksternal melukiskan pemakaian bahasa menurut lingkungan pemakainya. Pemakaian bahasa dalam setiap lingkungan atau daerah sentuh bahasa ditentukan oleh beberapa variabel yaitu (1) lamanya, (2) kekerapannya, dan (3) dorongan-dorongan yang menyebabkan adanya pemakaian bahasa.

Lingkungan pemakaian bahasa atau daerah sentuh bahasa dapat terjadi (1) di rumah, (2) di masyarakat, (3) di sekolah, (4) dalam media massa, dan (5) dalam korespondensi. Pemakaian bahasa di rumah dapat terjadi dengan ayah, ibu, sanak saudara, keluarga, dan pembantu. Pemakaian bahasa di masyarakat berlangsung dengan tetangga, mesjid, dalam pekerjaan, dan dalam hiburan. Pemakaian bahasa di sekolah antara lain meliputi bahasa pengantar, pegaulan antar murid, antar guru, dan antar guru dan murid. Pemakaian bahasa dalam media massa antara lain terjadi melalui radio, televisi, surat kabar, majalah, buku, dan pidato. Pemakaian bahasa dalam korespondensi berlangsung dalam surat menyurat, baik resmi maupun pribadi.

Pemakaian bahasa Sunda di daerah Kabupaten Ciamis hampir terdapat pada sebagian besar lingkungan pemakaian atau daerah sentuh bahasa tersebut di atas.


Deskripsi Bahasa Sunda Daerah Kabupaten Ciamis

Kabupaten Ciamis secara geografis dikelilingi oleh kabupaten (daerah) yang mempunyai ciri pemakaian bahasa yang diduga berbeda-beda. Kabupaten Tasikmalaya di sebelah barat dianggap daerah peralihan bahasa Sunda dialek Priangan. Kabupaten Majalengka dan Kuningan di sebelah utara dianggap sebagai daerah dialek bahasa Sunda yang berbeda dengan bahasa Sunda dialek Priangan. Propinsi Jawa Tengah di sebelah timur merupakan daerah bahasa lain, bahasa Jawa. Keadaan geografis seperti itu diduga mempengaruhi pemakaian bahasa Sunda di Kabupaten Ciamis.

Selain itu, Ciamis sebagai suatu kesatuan geografis mungkin memperlihatkan kekhasan pemakaian bahasa tertentu sehingga sering terdengar orang awam di Jawa Barat menyebut ada yang disebut "bahasa Sunda dialek Ciamis".

Dari total 197 desa sesuai buku yang saya baca, maka akan diambil 10 desa di daerah perbatasan dengan Jawa Tengah (62,5%), 5 desa di daerah perbatasan dengan Kabupaten Kuningan dan Majalengka (50%), 10 desa di daerah perbatasan Kabupaten Tasikmalaya (27,8%), dan 17 desa di daerah yang bukan daerah perbatasan.

Dan dari sekitar 42 desa yang diambil dan dijelaskan dalam buku ini. Terdapat beberapa lokasi/tempat yang memiliki dialek berbeda dari bahasa Sunda umumnya. Di Kabupaten Ciamis terdapat banyak kata yang menandakan satu hal/maksud Contoh:

A; 5 kata yang menandakan "Anak Kerbau" : Anak munding, Ènèng, Gudèl, Gudèb, Cemè

B; 2 kata yang menandakan "Besan" : Warang, Bèsan

C; 3 kata yang menandakan "Celana" : Calana, Serewal, Kolor

D; 2 kata yang menandakan "Dapur" : Dapur, Pawon

G; 4 kata yang menandakan "Gado Gado" : Lotek, Pecel, Pecel gerus, Karèdok

H; 6 kata yang menandakan "Habis" : Bèak, Èrèp, Entok, Amring, Amrin, Angring

I; 2 kata yang menandakan "Ikan Mas" : Lauk emas, Kancra

K; 7 kata yang menandakan "Kacang Tanah" : Kacang bogor, Kacang banten, Kacang manila, Kacang bagolo, Kacang jogo, Kacang garut, Kacang tanah

L; 2 kata yang menandakan "Lebai" : Lebè, Amil, Kayim

M; 3 kata yang menandakan "Mekar" : Beukah, Ligar, Megar

N; 3 kata yang menandakan "Nenas" : Ganas, Nanas, Danas

P; 2 kata yang menandakan "Pepaya" : Gedang, Gandul

S; 5 kata yang menandakan "Sirsak" : Nangka walanda, Nangka hèjo, Nangka sebrang, Sirsak, Mandalika

T; 3 kata yang menandakan "Terinjak" : Katincak, Kapèak, Kapèdak

U; 3 kata yang menandakan "Ubi Jalar" : Boled, Mantang, Lobak


Dan dari 42 desa itu, terdapat 6 desa yang telah banyak dipengaruhi oleh Pengaruh Bahasa Jawa, diantaranya:

  • Desa Sukamantri, Kecamatan Panjalu 11 bahasa : Bengkok, Danas, Gendul, Kemasan, Kuwu, Legèn, Lèyotan, Minyak lantung, Mirang, Padasan, Rendeng

  • Desa Medanglayang, Kecamatan Panumbangan 10 bahasa : Asu, Bengkok, Danas, Gendul, Jenang, Kemasan, Kuwu, Lèyotan, Mirang, Rendeng

  • Desa Tanjungsari, Kecamatan Rajadesa 13 bahasa : Ampyang, Bengkok, Danas, Jenang, Kemasan, Kedung, Kuwu, Lèyotan, Minyak lantung, Mirang, Padasan, Serewal, Tai melèk

  • Desa Dadiharja, Kecamatan Rancah 13 bahasa : Ampyang, Asu, Danas, Gendul, Gudèl, Jenang, Kemasan, Klandingan, Kuwu, Legèn, Mirang, Padasan, Serewal

  • Desa Buniseuri, Kecamatan Buniseuri 11 bahasa : Ampyang, Bengkok, Clobèkan, Entok, Gedang kulutuk, Gendul, Gudèl, Kemasan, Kedung, Kuwu, Tumbelèk

  • Desa Bunter, Kecamatan Cisaga 13 bahasa : Ampyang, Bengkok, Danas, Gendul, Gudèl, Jenang, Kedung, Kuwu, Leker, Padasan, Rendeng, Samangèn, Tai melèk

  • Desa Bangunharja, Kecamatan Cisaga 12 bahasa : Ampyang, Bengkok, Danas, Gendul, Jenang, Kedung, Kuwu, Leker, Lèngotan, Padasan, Rendeng, Waton

Maka dari hasil laporan membaca buku perkembangan dialek ini, dapat disimpulkan bahwa, bahasa Sunda yang dipergunakan di Kabupaten Ciamis merupakan suatu dialek tertentu, yang oleh umum sering dikatakan sebagai "bahasa Sunda dialek Ciamis"

(Dudu Prawiraatmaja, Agus Suriamiharja, Hidayat. “Geografi Dialek Bahasa Sunda di Kabupaten Ciamis”)

Jatinangor, 24 September 2012



2 April 2012

Rizki Sanjaya




Rizki Sanjaya Masbox
Rizki Sanjaya, S.Hum
Rizkimasbox