24 August 2020

Bandung Creative Hub Zine - Volume 06

 

Pemimpin Redaksi:

Rizki Sanjaya

 

Editor:

Rizki Sanjaya

 

Kontributor:

Desy Andriani

Horror Rudey

Vanya Sitar

 

Ilustrator:

Moch. Dio Putra

 

Desain Sampul:

Desy Andriani

 

Penata Letak:

Rizki Sanjaya Masbox

 

creativehub.bdgzine! Volume. 06

Bandung Creative Hub

Jalan Laswi No. 7, Kacapiring, Kota Bandung 40271

 

Zine! Ini gratis, silakan unduh dan perbanyak.


Bandung Creative Hub Zine - Volume 05

 

Pemimpin Redaksi:

Rizki Sanjaya

 

Editor:

Rizki Sanjaya

 

Kontributor:

Desy Andriani

Horror Rudey

Vanya Sitar

 

Ilustrator:

Moch. Dio Putra

 

Desain Sampul:

Moch. Dio Putra

 

Penata Letak:

Rizki Sanjaya Masbox

 

creativehub.bdgzine! Volume. 05

Bandung Creative Hub

Jalan Laswi No. 7, Kacapiring, Kota Bandung 40271

 

Zine! Ini gratis, silakan unduh dan perbanyak.


Bandung Creative Hub Zine - Volume 04

Pemimpin Redaksi:

Rizki Sanjaya

 

Editor:

Rizki Sanjaya

 

Kontributor:

Desy Andriani

Horror Rudey

Ismi Aulia

Vanya Sitar

 

Fotografer:

Moch. Dio Putra

 

Halaman Tengah:

Moch. Dio Putra

 

Desain Sampul:

Rizki Sanjaya

 

Penata Letak:

Rizki Sanjaya Masbox

 

creativehub.bdgzine! Volume. 04

Bandung Creative Hub

Jalan Laswi No. 7, Kacapiring, Kota Bandung 40271

 

Zine! Ini gratis, silakan unduh dan perbanyak.

 

Bandung Creative Hub Zine - Volume 03


Pemimpin Redaksi:

Rizki Sanjaya

 

Editor:

Rizki Sanjaya

 

Kontributor:

Horror Rudey

Indah Nur Rizka

 

Fotografer:

Aditya Fazar Sanjaya

Salman Haryanto

 

Sampul Depan:

Rizki Sanjaya

 

Sampul Belakang:

Moch. Dio Putra

 

Penata Letak:

Rizki Sanjaya Masbox

 

creativehub.bdgzine! Volume. 03

Bandung Creative Hub

Jalan Laswi No. 7, Kacapiring, Kota Bandung 40271

 

Zine! Ini gratis, silakan unduh dan perbanyak.


Bandung Creative Hub Zine - Volume 02

 


Pemimpin Redaksi:

Rizki Sanjaya

 

Editor:

Rizki Sanjaya

 

Reporter:

Ghulam Shabirrahman

Renna Maya Dwi Cahyati

 

Kontributor:

Horror Rudey

 

Fotografer:

Aditya Fazar Sanjaya

 

Desain Sampul:

Rizki Sanjaya

 

Penata Letak:

Rizki Sanjaya Masbox

 

creativehub.bdgzine! Volume. 02

Bandung Creative Hub

Jalan Laswi No. 7, Kacapiring, Kota Bandung 40271

 

Zine! Ini gratis, silakan unduh dan perbanyak.

Bandung Creative Hub Zine - Volume 01


Pemimpin Redaksi:

Rizki Sanjaya

 

Editor:

Rizki Sanjaya

 

Reporter:

Ghulam Shabirrahman

Renna Maya Dwi Cahyati

 

Kontributor:

Horror Rudey

Anggi Dwisya Marcelina

 

Fotografer:

Aditya Fazar Sanjaya

 

Desain Sampul:

Zahra Nur Maulidia

Defira Febrianty Alfitri

 

Penata Letak:

Rizki Sanjaya Masbox

 

creativehub.bdgzine! Volume. 01

Bandung Creative Hub

Jalan Laswi No. 7, Kacapiring, Kota Bandung 40271

 

Zine! Ini gratis, silakan unduh dan perbanyak.

Ketupat Selain Sebagai Makanan

Taqabbalallahu minnaa wa minkum, selamat berlebaran untuk sobat kreatif di mana pun kalian berada. Semoga pada hari kemenangan yang baru saja berlalu beberapa hari kemarin, kita dapat sama-sama mencapai fitrah-Nya, serta senantiasa mendapat manfaat dari segala proses yang sudah sama-sama kita tempuh sebelumnya.

Ngomong-ngomong tentang lebaran, kali ini tim redaksi ingin membahas tentang makanan yang umum kita temui pada saat momen berlebaran. Sebuah makanan yang mungkin juga sering kita temukan di luar hari raya, namun dirasa sangat spesial jika kehadirannya ada di momen hari raya. Langsung saja kita bahas tentang ketupat.

Ketupat yang sering kita makan pada momen hari raya bersama keluarga ini adalah sebuah makanan utama yang tentunya sering tersaji di meja makan kita. Ketupat yang terbuat dari beras dan dimasukkan ke dalam anyaman yang terbuat dari daun kelapa ini, adalah pengganti dari nasi yang umumnya menjadi aktor utama pada keseharian makan bagi mayoritas masyarakat di Indonesia.

Cara pembuatannya pun cukup sederhana, beras yang telah dibersihkan tinggal kita masukkan pada sela-sela anyaman ketupat, lalu kemudian ditutup rapat. Oh iya, beras yang dimasukkan ke dalam anyaman tersebut jangan dibuat penuh ya, karena nantinya akan mengembang dengan sendirinya. Cukup dimasukkan 70% saja dari kapasitas anyaman ketupat tersebut.

Selanjutnya anyaman ketupat yang telah diisi oleh beras siap untuk direbus pada didihan air selama lebih-kurang enam jam lamanya, atau lamanya bisa diatur sesuai selera jika ingin mendapat tekstur yang digemari oleh masing-masing.

Ketupat yang telah masak nantinya akan menghasilkan tekstur nasi yang padat, hampir-hampir mirip dengan lontong. Yang membedakan ketupat dengan lontong adalah aroma dari daun kelapa yang sudah menguning, dan tentunya tidak bisa ditemui pada lontong. Karena lontong biasanya dibungkus dengan daun pisang, bukan daun kelapa.

Cara penyajiannya, ketupat yang telah masak bisa digantung terlebih dahulu sebelum disajikan agar air rebusan menetes. Jika ingin langsung dimakan, ketupat dapat dipotong-potong seukuran satu suap sendok makan, kemudian dilengkapi hidangan lainnya sesuai adat dan kebiasaan di daerah masing-masing.

Masih berbicara tentang ketupat, selain tentunya kita nikmati sebagai makanan, boleh juga kita nikmati sebagai sebuah filosofi hingga mencari tahu asal-usulnya. Agar tak hanya hasrat mengenyangkan perut yang dominan, namun asupan pada otak pun sama-sama kita buat kenyang sekalian.

Dilansir dari historia.id dalam tulisan yang berjudul “Mengunyah Sejarah Ketupat”, tradisi makan ketupat ternyata sudah hidup sekira 5 abad lamanya di Nusantara. Awalnya tradisi makan ketupat ini dijadikan simbol perayaan pada hari raya Islam di masa pemerintahan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa, yaitu Kerajaan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah.

Menurut H.J. de Graaf masih dari historia.id, muncul dugaan bahwa kulit ketupat yang terbuat dari janur pohon kelapa ini memiliki fungsi sebagai penunjuk identitas budaya khas pesisiran yang banyak ditumbuhi pohon kelapa. Oleh de Graff juga hal tersebut dimaknai sebagai upaya masyarakat pesisir di Jawa untuk menjadikannya simbol, dan untuk kemudian dapat dibedakan dengan warna hijau dari Timur Tengah dan merah dari Asia Timur.

Terkait penyebaran ketupat yang dapat merata dan tetap dikenal hingga saat ini, ada peran besar dari Walisongo di dalamnya. Peran dari Walisongo inilah, terutama Raden Mas Sahid yang memiliki panggilan Sunan Kalijaga dalam mengakulturasi budaya dengan memperkenalkan dan memasukkan simbol ketupat sebagai bagian dari penyebaran agama Islam.

Kata ketupat sendiri berasal dari kata “kupat”, yang mana adalah akronim dari “ngaku lepat” (dapat dilihat pada Kamus Pepak Basa Jawa dari Slamet Mulyono) dengan arti mengaku bersalah. Sedang anyaman daun kelapa ini adalah “janur” yang berasal dari akronim “jatining nur” yang memiliki arti hati nurani. Isian ketupat yang diisi oleh beras dapat dimaknai sebagai nafsu duniawi, hingga kesimpulan dari keseluruhannya dapat dilambangkan sebagai nafsu dunia yang dibungkus dengan hati nurani.

Ternyata ketupat yang selama ini kita makan memiliki makna dan filosofi yang cukup dalam. Dalam tiap kunyahan yang masuk ke dalam mulut, terdapat banyak simbol kebaikan yang tentunya dapat kita maknai juga dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

Semoga selain dapat menjadi menu sajian utama pada saat berhari raya, kita juga dapat mengamalkan makna yang terkandung dalam ketupat yang kita makan tersebut. Tentunya harus dengan porsi seimbang ya, secukupnya, jangan sampai berlebihan.

Bandung, 28 Mei 2020.


Refleksi 75 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia

“Tujuh belas Agustus tahun empat lima, itulah hari kemerdekaan kita” demikian adalah dua kalimat pembuka dari salah satu lagu nasional berjudul “Hari Merdeka” karangan Husein Mutahar. Lagu “Hari Merdeka” adalah sebuah lagu yang umum kita temui kala memasuki momen perayaan kemerdekaan Republik Indonesia di setiap tahunnya, entah lagu itu diputar dalam bentuk digital, maupun dinyanyikan secara serempak dalam sebuah karnaval perayaan kemerdekaan Republik Indonesia.

Berbicara tentang perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, khususnya di tahun 2020 ini, adalah berbicara juga tentang menahan sebuah pola rutinitas tahunan, yang telah terselenggara selama puluhan tahun lamanya. Rutinitas merayakan kemerdekaan yang larut dalam nuansa sukacita dan hingar bingar. Dan rutinitas kegiatan yang menghimpun kerumunan banyak orang, serta ragam atraksi perlombaan gerak tubuh, yang diusahakan memiliki makna dan filosofi mengenang masa-masa perjuangan para pahlawan dalam memerdekakan republik ini.

Di usianya yang genap 75 tahun pada 2020 ini, tak dinyana turut hadir sebuah ironi. Telah sama-sama kita ketahui jika sebuah wabah tak kasat mata bernama Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), yang juga menyisakan banyak dampak negatif bagi berbagai pihak, hadir ke Republik ini hanya beberapa bulan saja sebelum Republik Indonesia menggenapkan usianya menjadi 75 tahun.

Bagaimana dengan perayaan kemerdekaan tahun ini? Apa boleh buat, situasi dan kondisi berkata demikian. Mungkin di balik ini kenyataan ini semua tersembunyi sebuah solusi untuk saling menguatkan, kala ketakberdayaan menjadi cara untuk menuju sebuah persatuan. Bukankah untuk menuju sebuah kemerdekaan diperlukan sebuah perjuangan yang besar? Kiranya dalam kondisi seperti saat ini sekalipun, rasa optimis harus selalu hadir kepada kita semua. Selain juga harus mau saling berintrospeksi dan mawas diri.

Tampil beda, mungkin adalah satu penawaran yang cukup pas untuk memaknai perayaan kemerdekaan pada situasi dan kondisi seperti sekarang ini. Tampil beda adalah padanan frase yang berfungsi untuk menunjukkan sesuatu nampak berlainan dibanding biasanya. Berlainan di sini dapat pula kita maknai dengan pengalihfokusan kebiasaan yang lama (beramai-ramai) kepada kebiasaan yang baru (menjauhi keramaian). Jika dulu perayaan kemerdekaan seakan-akan harus dirayakan secara tatap muka dan berkumpul dalam ruang yang tak kosong, kini ada baiknya peran ruang tersebut kita alihkan kepada ruang virtual terlebih dahulu.

Selain kebiasaan beramai-ramai yang perlu tampil beda, sarana pengekspresian diri pun tentu dapat dialihfungsikan juga. Jika perayaan kemerdekaan sebelum-sebelumnya sering dimaknai dengan aneka macam perlombaan dalam sebuah arena, kini perlombaan tersebut dapat kita alihkan kepada hal yang lebih bernilai konkret, seperti lomba-lomba kekaryaan pada membuat desain grafis, karya tulis, olahan seni suara, serta aneka ragam kesenian lainnya yang tentunya diberi tema dan filosofi perjuangan kemerdekaan, serta hasilnya harus bisa dinikmati publik secara luas.

Akan  menjadi kurang elok rasanya jika momen khidmat perayaan kemerdekaan ini hanya dijadikan ajang untuk berdiam diri, mengumpat, serta terus-menerus meratapi keadaan. Sebagai makhluk yang dikaruniai akal oleh Tuhan Yang Maha Esa, mungkin ini adalah salah satu momen terbaik untuk memaksimalkan setiap potensi yang kita miliki, mencari jalan pemecahan dari setiap persoalan, hingga kita dapat bangkit kembali.