15 February 2022

Ruangpalingdalam: Pameran Tunggal Seni Rupa Ridla Dado Rijallul

Sebuah pameran seni rupa tunggal yang diinisiasi oleh seniman muda asal Bandung, Ridla Dado, rampung diselenggarakan di Fashion Studio, Bandung Creative Hub. Pameran bertajuk “Ruangpalingdalam” ini, dilangsungkan selama dua hari, sejak 11–13 Februari 2022. Terdapat sekitar 3 instalasi dan 20 lukisan yang Ridla tampilkan pada solo exhibition-nya kali ini.

Ditemui di sela waktu pameran, tim redaksi berhasil mewawancarai Ridla selaku pengisi utama pameran ini. Sebagai pembuka, pemilik nama asli Ridla Rijallul Anbiya ini menuturkan jika karya-karya yang ia bawakan, telah dibuatnya selama empat tahun ke belakang. “Lukisan yang saya buat ini, sudah mulai dibuat dari tahun 2019. Jadi sekitar rentang 2019–2022”, ujarnya.

Terkait tema yang diangkat, Ridla memiliki alasan panjang mengapa tema pamerannya dinamakan “Ruangpalingdalam”. “Kemarin itu ada perasaan patah hati. Cewek saya ninggalin saya karena orang lain. Itu sangat sakit buat saya. Kenapa bisa jadi pameran? Mungkin ini salah satu bentuk memperlihatkan ruang paling dalam, pada diri saya”, terangnya.


Seputar Karya

Berbicara tentang karya-karya yang dipamerkan, Ridla menuturkan jika kebanyakan dari lukisannya, mengisahkan hal-hal dengan penggambaran yang tidak baik-baik saja. Atau dalam arti lain, bukanlah hal yang diinginkan oleh kebanyakan orang. “Lukisan di sana kebanyakan menceritakan kaya depresi, tentang sakit jiwa, kekerasan, dan bunuh diri”.

Terdapat satu karya yang bercerita tentang pandangan Ridla, terhadap lingkungan yang memandang wanita secara rendah. Dalam imajinasinya, Ridla melihat hal tersebut layaknya sebuah human trafficing. “Ada satu, ‘Human Trafficing’. Karena di lingkungan saya banyak cewek yang diajak mabuk-mabukan. Terus dibungkuslah, kaya gitu. Saya tuangkan dalam sebuah lukisan”.

Kemudian ada pula karya yang ia beri judul ‘Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban’. “Itu kan artinya, nikmat mana lagi yang kau dustakan. Namun dalam karya ini, saya lebih menceritakan kenikmatan duniawi. Menurut saya sangat simbolis ya. Saya gambarkan dengan hewan mitologi unicorn, bertanduk alat kontrasepsi pria. Ini seakan-akan kejantanan pria itu, harus dijaga”.

Masih tentang lukisannya yang kedua, Ridla banyak tambahkan unsur simbolis yang mesti ditafsirkan secara utuh. “Saya gunakan banyak tinta dan efek ngucur. Saya tulis juga ayat dari surat Al-Fil. Surat ini kan menceritakan tentang burung ababil yang turun dan melemparkan batu yang terbakar. Nah mungkin itu gambaran jika kita terus menerus menikmati duniawi”.

Perasaan gundah ketika usia beranjak dewasa pun, tak luput Ridla buat menjadi lukisan. Rasa malu ketika menengadah tangan minta uang, rasa bingung mencari uang, ia gambarkan dalam salah satu lukisannya. “Judulnya ‘Kita adalah Api’. Lukisan ini menceritakan kebingungan saya dalam hidup. Ketika usia terus bertambah, tapi malu minta uang, tapi bingung cari uang ke mana”.

Meski banyak dari karyanya yang dirasa tidak umum. Namun inilah seni. Ridla menilai banyak faktor yang menyebabkan sebuah karya seni bisa lahir. Salah satunya adalah perasaan yang sudah cukup lama menghinggapi dirinya. “Hal-hal yang membuat Ridla Dado bikin karya demikian, mungkin pengalaman yang sangat jos. Untuk seusia saya jujur, hal seperti itu (ditinggal cinta) sangat sakit”.


Berjalan dengan Kolaborasi

Acara yang terselenggara selama tiga hari ini, menurut penuturan Ridla tak akan berhasil jika tanpa kolaborasi. Terlebih dukungan dari rekan-rekanya. Baik itu sesama komunitas, hingga aktor luar yang terlibat. “Saya berkolaborasi dengan kelompok teater saya, Demam Teater. Terus sama aktor dan performer lain. Mereka seniman juga”.

Beberapa aktor dan performer yang Ridla ceritakan, adalah sejumlah kontributor yang pada akhirnya mengisi sesi performance art. “Ada Ikarus Ibnu Firnas, terus ada Aysha Farrel, dan Lembayung. Kalau yang dari Demam Teater, ada Fikri Fauzia Firdaus, ada Virgiawan Pramuji, sama ada Dwinanda Perwira. Mereka semua ngisi di solo exhibition ini”.

Kontributor yang terlibat silih berganti mengisi rangkaian acara yang disusun. Beberapa penampilan khusus memperlihatkan kemahiran bermain cat, hingga experimental music. “Ada performance art dari Lembayung dan Virgiawan. Terus ada performance art sekaligus la painting dari Lembayung dan Fikri Fauzia. Ada performance art dari saya, dan experimental music dari Ikarus”.

Sekilas tentang performance art yang Ridla bawakan, dirinya menuturkan jika ini merupakan sajian khusus yang spesial. Bahkan telah lama ia persiapkan. “Judulnya itu ‘Arifqu Ikhlasul Rizq’. Mungkin dia adalah orang yang sekarang dekat dengan ‘dia’. Namun mungkin orang yang saya benci. Lukisan-lukisan ini saya hancurkan pake gerinda. Saya udah izin juga ke yang bersangkutan”.

Hampir seluruh karya Ridla yang terkumpul ia hancurkan begitu saja. Meski kini lukisannya tersisa satu, Ridla bercerita jika dirinya turut mengundang orang di balik ide judul penamaan performance art-nya. “Tidak semua, ada satu yang disisakan. Saya sudah undang, tapi gak datang. Padahal sangat ingin banget ditonton langsung”.


Hobi Sejak Kecil

Sebuah perjalanan panjang, masih terus dicicil oleh Ridla. Khusus dalam melukis, Ridla bertutur jika hobinya itu sudah sejak lama ia sukai. “Saya produktif itu dari kecil, kalau menggambar mah sejak kecil banget. Waktu SMP dulu saya mulai suka bikin-bikin artwork band, namun ya gimana gitu ya, dulu tuh. Baru bener fokus waktu SMA”.

Meski diyakini sudah gemar melukis sejak kecil, Ridla merasa hingga kini dirinya masih belum juga menemukan warna dan gaya khasnya tersendiri. “Waktu SMA baru nih mulai berusaha melukis serius. Perjalanan mencari warna, sampai sekarang saya masih mencari warna. Sampai sekarang masih mencari gaya dan kekhasan saya sendiri”.

Dari beberapa perjalanannya, Ridla bercerita jika dirinya sudah beberapa kali mengikuti pameran seni rupa secara kolektif. “Sebelumnya di pameran-pameran kolektif. Pernah saya ikutan Majalaya Art Exhibition. Di sana saya pameran dengan Fahmi Gunawan, salah satu seniman asal Majalaya. Terus pameran kolektif Burndung gitu. Sama solo exhibition online”.

Ketika ditanya terkait garapan selanjutnya, Ridla menceritakan jika dirinya mungkin akan membuat solo exhibition kembali. Akan tetapi, konsep yang dipakai akan berbeda dengan pameran yang baru saja ia selenggarakan. “Mau sekali ya (bikin lagi). Namun dalam konteks media yang berbeda. Saya ingin lebih ke campur-campur. Lebih ke instalasi dan patung sepertinya”.

Cukup sulit mengajak Ridla melontarkan pesan penutup. Tanggapannya yang senantiasa bercanda, terkadang membuat sesi pembicaraan memutar. Sempat Ridla berujar jika dirinya memang belum cukup percaya diri, ketika memulai apa saat ini sedang dirinya perdalam. Terutama ketika melihat dirinya, bukan asli berasal dari jurusan seni rupa sungguhan.

“Gimana ya, malu. Saya awalnya gak percaya diri, apalagi jika dilihat dari jurusan saya (teater)”. Ada satu hal yang membuatnya bisa merasa lega. Meski diyakini ia bukan anak jurusan seni rupa, akan tetapi, dirinya merasa telah berhasil melampaui apa yang selama ini tak diduga. “Terus saya bikin solo exhibition, yang anak seni rupanya aja pada belum bikin solo exhibition. Jarang bangetlah”.

Pada akhirnya, Ridla berpesan kepada sobat sekalian untuk terus maju ke depan, tanpa menghiraukan omongan-omongan buruk yang berupaya menjatuhkan mental kita. ”Apa salah gitu? Jangan malu, harus percaya diri. Tidak salah ketika kita punya langkah lebih dari orang lain. Kalau berjalan di seni itu, jangan denger kiri-kanan. Maju aja gitu, hajar jalanan”, pungkasnya.

Bandung, 15 Februari 2022.


14 February 2022

Storytelling: Sebagai Metode Pengajaran Anak

Sebuah kegiatan bertajuk ‘Kelas Mendongeng dan Origami’, terselenggara di Perpustakaan Bandung Creative Hub, pada Sabtu 12 Februari 2022. Acara yang diinisiasi oleh Subsektor Penerbitan BCH, kolaborasi dengan Rumah Baca Cibeunying ini, dihadiri oleh 15 peserta,  dengan rentang usia 4 hingga 11 tahun.

Pembatasan peserta masih menjadi prioritas pada jalannya acara. Hal ini berkenaan dengan status PPKM Level 3, yang masih ditetapkan untuk wilayah Kota Bandung dan sekitarnya. Selain juga menciptakan kenyamanan, bagi para pendamping yang menemani anak-anaknya berkegiatan langsung dari Perpustakaan Bandung Creative Hub.

Ditemui seusai acara, Ismi Aulia, perwakilan dari Rumah Baca Cibeunying berhasil tim redaksi temui, guna menanyakan langsung perihal kegiatan ini. Dari penuturannya, acara ini memang dikhususkan untuk anak di rentang usia tersebut. ”Setelah ngobrol-ngobrol juga, memang ingin memaksimalkan peran perpustakaan sebagai tempat yang nyaman bagi anak”.

Dari pandangannya, sudah seharunys sebuah perpustakaan itu nyaman bagi segala lapisan usia. Bukan hanya dinikmati oleh kalangan remaja dan dewasa saja. “Harus menjadi sarana yang dimanfaatkan sejak usia masih anak-anak. Ditambah kan, di perpustakaan banyak buku yang bisa menjadi gerbang awal anak-anak memahami dunia”, ujarnya.


Jalannya Sesi

Para peserta disambut dengan ceria oleh pemandu acara yang bertugas. Seraya pembuka, peserta diberikan sebuah mode permainan yang dapat membuat kedekatan lebih terjalin. “Sebelum sesi dongeng, MC membawakan permainan untuk anak-anak. Agar situasinya lebih cair. Untuk permainan pertama, anak-anak dikenalkan dengan permainan up and down”.

Permainan up and down yang dimaksud, adalah sebuah permainan kebalikan, yang mana dapat melatih konsentrasi anak-anak. “Misal MC bilang up, nanti anak-anak harus membuat gerakan ke bawah. Sedangkan jika MC bilang down, anak-anak harus buat gerakan ke atas. Begitu pun jika MC bilang left, atau right, harus sebaliknya”, jelas Ismi.

Berlanjut ke sesi dongeng, pada sesi ini anak-anak terlihat serius memerhatikan jalannya acara. Dongeng yang disiapkan berjudul ‘Beruang yang Suka Menolong’. “Dongeng ini memang sengaja kita buat. Naskahnya pun bikin sendiri. Tentunya di dongeng ini, kita ingin mengarahkan anak-anak untuk dapat menolong terhadap sesama, tanpa melihat mereka itu siapa”.

Selepas dongeng selesai, peserta kembali dihadapkan pada mode permainan. Pada kesempatan ini, anak-anak yang hadir akan memainkan tepuk tangan dengan warna. Sama halnya dengan up and down, para peserta akan dilatih konsentrasinya di permainan ini. “Kalau MC bilang biru, harus tepuk tangan dua kali. Kalau merah, dua kali. Hijau, tiga kali. Hitam, tanpa tepuk tangan”.

Selain mendorong peningkatan konsentrasi pada anak, permainan ini sengaja disajikan guna tercipta suasana senang dan riang gembira di Perpustakaan. Terlebih karena usia anak 4 hingga 11 tahun, adalah usia di mana mereka akan aktif merespons materi yang disajikan. “Biar lebih cair, dan anak-anak juga pada senang. Alhamdulillah responsnya bagus. Semua pada ikutan”.

Materi kedua pada acara ini adalah membuat origami. Para peserta dipandu oleh rekan-rekan dari SMKN 2 Kota Bandung, ketika menjalani sesi membuat origami burung. “Kita dibantu sama anak-anak PKL juga. Jadinya mereka yang ngarahin jika ada peserta yang kebingungan. Untuk bahannya sendiri, kita tayangkan melalui televisi”.

Para orang tua yang hadir, terlihat antusias menyimak setiap sesi berlangsung. Untuk menciptakan komunikasi lebih interaktif, para peserta dipersilakan memberi hasil kreasi origaminya kepada para pendamping di lokasi. “Sama kita, anak-anak diarahkan untuk berani menunjukkan hasil karyanya ke para pendamping yang hadir”, ujar Ismi.

Acara diakhiri dengan mode permainan terakhir. Seraya penutup, permainan tukar gambar menjadi sajian pamungkas di ‘Kelas Mendongeng dan Origami’ ini. “Diawali membuat gambar kepala sampai pundak, kemudian ditukar dengan teman sebelahnya. Dilanjutkan membuat pundak hingga paha. Terakhir ditukar kembali untuk gambar paha hingga ujung kaki”.

Pada mode permainan yang terakhir ini, diharapkan anak-anak dapat percaya diri ketika situasi mengharuskannya bekerja sama dengan temannya yang lain. “Ada beberapa yang belum percaya diri. Takut gambarnya jadi jelek kalau ditukar. Tapi kami arahkan untuk saling percaya antara satu anak dengan anak yang lain”, terang Ismi.


Acara Rutinan

‘Kelas Mendongeng dan Origami’ ini direncanakan akan rutin terselenggara di Bandung Creative Hub. Sebagaimana diutarakan oleh Rizki Sanjaya selaku Pengelola Perpustakaan dan Subsektor Penerbitan BCH. “Insya Allah akan rutin diselenggarakan di Perpustakaan. Ini memang target saya. Agar anak-anak sedari usia dini sudah betah dengan aktivitas di Perpustakaan”.

Untuk konsepnya sendiri, Rizki cukup terbuka kepada berbagai komunitas yang ingin bekerja sama dengannya. Bahkan dirinya tidak menutup kemungkinan, ke depannya sesi mendongeng akan menggunakan bahasa Inggris. “Intinya kami sangat terbuka siapa saja yang ingin berkontribusi. Bahkan jika ada yang ingin storytelling menggunakan bahasa Inggris, asyik juga”.

Terkait materi dongeng ke depannya, Rizki menjelaskan jika dirinya akan menyertakan folklor yang berkembang di sekitarnya. Menurutnya metode mendongeng, merupakan salah satu cara, menanamkan pemahaman tanpa adanya paksaan. “Seperti dongeng dan mitos yang berkembang di tatar Sunda juga kan banyak.  Nanti akan saya kembangkan”, pungkasnya.

Bandung, 14 Februari 2022.



2 February 2022

Cooking Class Healthy Food: Makanan Sehat dengan Nutrisi Seimbang

Mungkin di antara kita saat ini, masih banyak orang yang menjalankan rutinitas makannya, hanya dari ukuran yang penting kenyang. Selain itu, lebih banyak lagi orang yang pada akhirnya memilih makanan enak di atas segalanya. Namun setahun belakangan, dari hasil statistik di Google Trends, beberapa kali keyword “makanan sehat” unggul dibandingkan makanan kenyang atau enak.

Pada edisi kali ini, tim redaksi berhasil menemui Ina Sawitri selaku pengisi acara Cooking Class Healty Food yang diselenggarakan di Amphitheater Bandung Creative Hub. Acara yang diselenggarakan pada awal Februari 2022 ini, dipandu oleh Ina selaku food designer, dengan sajian resep makanan sehat; bakso ayam dan minuman madu rempah.

Acara yang dibatasi hanya untuk 20 peserta ini, sempat Ina rasa tak akan maksimal. Hal ini dilatarbelakangi oleh situasi pandemi, yang hingga kini kembali meningkat di sekitaran kita. “Kita memang punya rencana mengajak 20 peserta. Tapi kita kira gak akan full. Selain karena situasi masih gini, saya sangka udah jarang juga orang yang ingin belajar masak”.

Ternyata segala sangkaan Ina salah. Dari target yang dicanangkan 20 peserta, nyatanya para pendaftar dan peserta yang hadir, jumlahnya tepat sesuai rencana awal. “Eh gak tahunya full booked gitu terisi. Di tengah mudahnya mendapat informasi resep makanan, ternyata masih banyak peserta yang hadir, dan mereka antusias banget”, ujarnya.

Dari penuturan Ina, peserta yang hadir didominasi oleh golongan ibu rumah tangga, yang uniknya, beberapa dari mereka sengaja dating selepas berbelanja di pasar tradisional. “Pulang dari pasar pada ke sini dulu. Ada yang dari Pasar Ancol, terus ada juga yang dari Kosambi. Mereka ngakunya didaftarkan oleh anaknya untuk ikutan cooking class ini”, terang Ina.


Membuat Menu Sehat dan Terjangkau

Cooking Class Healthy Food ini adalah kolaborasi Bandung Creative Hub bersama The Local Enablers. Terdapat dua menu yang dipresentasikan, dengan komposisi sehat dan terjangkau. Dalam pembuatan bakso ayam saja, diperlukan modal 50 ribu Rupiah, untuk menghasilkan 20 mangkuk bakso. “Bahannya cuma lima. Saya sampai suruh Ibu-ibu menghitung, dan gak lebih dari 50 ribu”.

Untuk pembuatan bakso ayam, bahan yang dipakai oleh Ina adalah daging ayam, garam, es baru, penyedap, dan tepung. Dari bahan sederhana seperti ini, Ina menuturkan kunci membuat bakso ayam yang enak ada di cara pembuatannya. “Sebetulnya kuncinya ada di es batu dan garam. Apa pun varian bakso yang kita buat. Kalau tahapannya baik dan benar, pasti baksonya kenyal”.

Selain alasan mudah dan sehat, Ina beralasan jika bakso ayam yang ia sajikan, ada kaitannya dengan hasil risetnya terkait minat masyarakat di Bandung yang memang gemar memakan bakso. “Kenapa saya pilih bakso ayam? Karena bakso itu digemari oleh banyak warga Bandung. Kalau orang luar datang ke Bandung juga, kalau gak bakmi, ya bakso”.

Untuk varian minuman, Ina menyajikan sebuah minuman manis dengan olahan rempah dan madu. Bahan yang digunakan oleh Ina dalam olahan ini adalah air, kayu manis, jeruk limau, dan madu. Ada hal menarik ketika Ina mempresentasikan minumannya ini. Timbul beberapa tanggapan dari peserta, ketika Ina menjadikan jeruk limau sebagai salah satu komposisi minumannya.

Sebagaimana kita tahu, jeruk limau merupakan bahan ampuh untuk membuat sambal. Namun di tangan Ina, jeruk limau ternyata punya potensi lain. “Tadi juga Ibu-ibu rada kaget ya. Katanya, ‘Teteh, masa sih dibikin minuman?’. Namun setelah mereka minum, ternyata mereka bilang enak. Mungkin mereka bingung, karena biasanya jeruk limau dipakai untuk sambal”.


Memperhatikan Detail Nutrisi

Sebagai seorang food designer, Ina memiliki tantangan lebih dalam setiap paparan sajiannya. Baginya, setiap makanan dan minuman mesti dikemas dengan tetap memperhatikan kadar nutrisinya. “Banyak yang gak tahu cara minum madu. Misal madu ditambah air panas, itu udah gak bisa. Kita cuma dapat manisnya, tetapi nutrisinya hilang”.

Seperti saat membuat makanan, Ina menuturkan terkait penambahan garam, akan lebih baik jika dilakukan di akhir sesi memasak. Tujuannya agar yodium dalam garam tidak hilang begitu saja. “Kayak garam aja, Ibu-ibu tuh nanya kenapa dimasukinnya terakhir? Padahal kan tujuan dari garam itu bukan sekadar menambah rasa asin, tetapi harus dapat zat yodiumnya juga”.

Berbicara terkait makanan sehat, Ina menjelaskan, dalam situasi pandemi seperti sekarang, adalah fase di mana cukup banyak dorongan agar masyarakat mengubah pola makannya. “Sejak pandemi Covid-19 ini, orang sudah bergeser. Ketika dulu masih banyak yang cuma ngejar murah dan banyak. Sekarang banyak juga yang rela bayar lebih mahal sedikit, agar bisa makan sehat”.

Konsep sehat dalam pandangan Ina adalah makanan bergizi lengkap, yang disesuaikan dengan usia, beserta tinggi dan berat badan. Oleh karenanya, sehat bagi tiap orang sudah pasti akan berbeda. “Sehat itu gizinya lengkap. Jadi harus sesuai porsi. Misal kebutuhan protein saya dan akang sudah pasti beda. Semakin banyak aktivitas juga berbeda. Jadi harus diukur dari kebutuhannya”.

Ina menganalogikan, jika kita yang hanya berfokus pada olahraga tanpa mengatur nutrisi yang seimbang, maka hal-hal yang tak diinginkan mungkin saja bisa terjadi. “Intinya harus terukur. Beberapa waktu lalu, ada satu kejadian ketika orang baru selesai lari, banyak berolahraga tapi gizinya tidak seimbang, dia henti jantung. Jadi bukan hanya olahraga yang buat kita sehat”.


Berawal dari Mata Kuliah

Kebiasaan memasak dari Ina, diyakini sudah berlangsung sejak lama. Namun terkait pendalaman konsentrasi dalam penciptaan resep makanan, Ina tuturkan semuanya berawal ketika dia masih menginjak bangku kuliah. “Saya kuliah di Jurusan Perikanan Unpad. Sebenarnya ini bukan jurusan yang saya inginkan. Tapi ada satu matkul yang membuat saya akhirnya betah”.

Mata kuliah yang Ina maksud adalah organoleptic. Sebuah mata kuliah yang menuntut kita memiliki kepekaan melalui uji indera yang dimiliki. “Sampai tiba di satu lab, namanya Pengolahan Hasil Perikanan. Terus, ada yang ingat Pak Bondan? Sosok Pak Bondan yang gemar mencicipi makanan, ternyata ada mata kuliahnya, bernama organoleptic. Dari situ saya semakin tertarik”.

Bimbingan dosen dan semangat Ina untuk mempertajam uji inderanya, membuahkan hasil. Meski Ina yakini, diperlukan konsentrasi dan ketekunan tinggi untuk memulainya. “Sampai dikarantina gitu. Setiap hari gak boleh makan makanan yang berasa. Dibimbing dosen. Disuruh cicipi karakter garam gimana, merica gimana, bawang putih gimana. Dan terbawa sampai sekarang”.

Dari kebiasaan itulah, Ina yakin jika kemahirannya mencecap setiap rasa, besar-kecilnya dipengaruhi minatnya pada saat kuliah dulu. “Iya terbawa. Sekarang ketika saya makan suatu makanan, saya bisa tahu cara bikinnya gimana. Bumbunya apa saja. Karena memang semuanya itu benar-benar terasa di lidah”, jelasnya.


Potensi dari Makanan Sehat

Bisnis makanan sehat menurut Ina akan semakin menjanjikan. Hal ini mengingat, semakin banyak orang yang sadar perlunya asupan nutrisi yang seimbang. Selain itu, dengan mempelajari setiap detail komposisi makanan yang kita buat, bukan tak mungkin hal ini bisa menjadi sesuatu yang menguntungkan dan bernilai jual tinggi.

Ina bercerita selain memiliki hobi melakukan demo memasak, dirinya pun terus mendalami pengembangan resep dari masakan yang ada. Karena menurutnya, ada potensi besar dari tiap resep makanan yang berhasil ia ciptakan. “Awal-awal bikin resep, sama saya dijual. Dan ternyata menguntungkan. Satu resep aja, saya bisa dapat 12-70 juta Rupiah”.

Namun meski dirinya bisa meraup keuntungan dari kreasi yang ia buat, Ina tetap merasa hal tersebut tidaklah terlalu bermanfaat bagi banyak orang. “Kalau saya jual resep aja, gak ada manfaatnya untuk banyak orang. Sejak 2018, saya mulai ngajarin UMKM-UMKM masak. Bahkan seringkali para peserta izin untuk pakai resep makanan saya. Saya selalu izinkan”.

Bagi Ina, dengan memberi izin terhadap penggunaan resep yang ia buat. Hal tersebut sedikit-banyaknya dapat mengubah jalan hidup seseorang. “Dari sini saya merasa, wah ternyata dari resep aja bisa ngubah hidup orang ya. Saya semakin semangat mengembangkan program, seperti gimana caranya ngajarin orang masak, pendampingannya, biar mereka bisa buka usaha”.

Selain itu Ina pun turut mengajak kepada sobat sekalian, agar terus menjaga pola makan dengan makanan yang sehat. “Kenapa harus? Karena dari asupan yang sehat, kita bisa menjadi orang yang sehat, pintar, dan berpikir jernih. Apa yang kita makan, akan mencerminkan seperti apa diri kita ketika beraktivitas”, pungkasnya.

Bandung, 02 Februari 2022.