Sabtu, 23 Februari 2013

AWAL MULA TUMBUHNYA BAHASA


AWAL MULA TUMBUHNYA BAHASA

I.                   BAHASA
Di dalam masyarakat, kata bahasa sering dipergunakan dalam pelbagai konteks dengan pelbagai macam makna. Lantas apa itu bahasa?
Bahasa adalah sarana ekspresi diri bagi manusia. Bahasa sebagai objek komunikasi perannya sangat besar dalam kehidupan, dari bahasa pula kita dapat berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Bahasa adalah, kapasitas khusus yang ada pada manusia untuk memperoleh dan menggunakan sistem komunikasi yang kompleks, dan sebuah bahasa adalah contoh dari sebuah sistem komunikasi yang kompleks.
 “Karena bahasa selalu hadir dan dihadirkan. Ia berada dalam diri manusia, dalam alam, dalam sejarah, dalam wahyu Tuhan. Ia hadir karena karunia Tuhan Sang Penguasa alam raya. Tuhan itu sendiri menampakkan diri pada manusia bukan melalui Zat-Nya, tapi lewat bahasa-Nya, yaitu bahasa alam dan kitab suci.” (Hidayat, 2006:21)
Menurut Harimurti, batasan bahasa berfungsi sebagai sistem lambang arbitrer yang dipergunakan suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri.
Sementara itu Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan pengertian ‘bahasa’ ke dalam tiga batasan, yaitu: 1) sistem lambang bunyi berartikulasi (yang dihasilkan alat-alat ucap) yang bersifat sewenang-wenang (arbitrer, pen) dan konvensional yang dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran; 2) perkataan-perkataan yang dipakai oleh suatu bangsa (suku bangsa, daerah, negara, dsb); 3) percakapan (perkataan) yang baik; sopan santun, tingkah laku yang baik.
Dua ilmuwan Barat, Bloch dan Trager, mendefinisikan bahasa sebagai suatu “sistem simbol-simbol bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh suatu kelompok sosial sebagai alat untuk berkomunikasi (Language is a system of arbitrary vocal symbols by means of which a social group cooperates).
Senada dengan Bloch dan Trager, Joseph Bram mengatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem yang berstruktur dari simbol-simbol bunyi arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota suatu kelompok sosial sebagai alat bergaul satu sama lain (a language is a structured system of arbitrary vocal symbols by means of which members of a social group interact).
Ronald Wardhaugh, memberikan definisi “bahasa ialah suatu sistem simbol-simbol bunyi yang arbitrer yang digunakan untuk komunikasi manusia (a system of arbitrary vocal symbols used for human communication).
Dari definisi-definisi yang telah diungkapkan didapatkan kata kunci yang mengandung pengertian umum, yaitu kata “simbol”. Artinya bahwa bahasa pada dasarnya merupakan sistem simbol yang ada dalam alam ini. Seluruh fenomena simbolis yang ada di alam semesta ini pada dasarnya adalah bahasa.

II.                ASAL USUL BAHASA
Berjuta tahun yang lalu, arkeolog menemukan kerangka hominoid, mahluk yang merupakan awal mula manusia, di pelbagai tempat. Setelah temuan tersebut, terdapat pula petunjuk peradaban hidup hominoid berupa kebudayaan yang masih primitif. Bersamaan dengan hal itu, bahasa sebagai prasyarat bagi pewarisan tradisional dan pertumbuhan kebudayaan diperkirakan muncul. Awal mula pertumbuhan bahasa ini disebut prabahasa.
Evolusi prabahasa menjadi bahasa yang telah diperkirakan oleh para ahli tidak memiliki bukti tertulis—atau bukti tersebut belum ditemukan. Oleh karena itu, berbagai teori mengenai timbulnya bahasa pun muncul dan berkembang.
Salah satu teori yang muncul adalah Teori Tekanan Sosial. Teori ini dikembangkan oleh Adam Smith dalam bukunya the Theory of Moral Sentiment  yang beranggapan bahwa bahasa manusia timbul karena manusia primitif berkebutuhan untuk saling memahami. Akibat kebutuhan tersebut, manusia dituntut untuk melakukan hubungan sosial dengan sesamanya sehingga terciptalah suatu tuturan. Dalam teori ini, manusia tergambar sudah mencapai kesempurnaan fisik dan mental.
Teori Onomatopetik atau Ekoik adalah salah satu dari teori mengenai asal-usul bahasa yang muncul. Teori yang dikemukakan oleh  J.G. Herder ini menjelaskan bahwa penamaan suatu objek ditentukan berdasarkan bunyi objek tersebut. Adapun objek yang dimaksud, misalnya, adalah binatang atau peristiwa-peristiwa alam. Banyak para ahli yang menentang teori ini karena dianggap tidak logis jika manusia hanya meniru bunyi dari makhluk-makhluk yang lebih rendah. Teori ini dijuluki pula teori bow-bow oleh penentangnya.
Sejumlah filsuf, seperti Etienne Bonnet Condillac dan Whitney turut menyumbangkan teorinya tentang asal-usul bahasa yang disebut Teori Interyeksi. Mereka beranggapan bahwa bahasa lahir dari ujaran-ujaran instinktif, yaitu bersumber pada dalam diri seorang manusia yang berhubungan erat dengan perasaan. Teori ini dijiluki dengan nama teori pooh-pooh. Ujaran instinktif atau interyeksi yang terlahir tidak berarti lebih dari sekadar luapan emosi sehingga tidak dapat dikontrol oleh pengujarnya. Namun, dalam perkembangannya, interyeksi tersebut dapat berkembang menjadi bahasa bila penggunaannya tidak lagi menandai luapan emosi, tetapi menandai sebuah pernyataan emosi.
Teori selanjutnya diajukan oleh Max Muller, yaitu Teori Natifistik atau Tipe Fonetik. Teori ini berdasarkan pada konsep mengenai akar. Max berasumsi bahwa terdapat hukum bahasa yang menyatakan bahwa tiap barang memiliki bunyi yang khas seperti halnya manusia yang memiliki kemampuan ekspresi artikulatoris sehingga dapat merespon secara vokal. Teori ini dikenal juga sebagai teori ding-dong.
Adapun teori lain yang muncul adalah Teori Yo-He-Yo. Teori ini dikembangkan oleh filsuf Noire yang beranggapan bahwa manusia melakukan pekerjaan-pekerjaan khusus secara bersama-sama. Saat saling memberi semangat kepada sesamanya, mereka akan mengucapkan bunyi-bunyi yang khas berhubungan dengan pekerjaan khusus itu. Oleh karena itu, teori ini disebut sebagai teori Yo-he-yo.
Wilhelm Wundt, seorang psikolog di abad XIX dalam bukunya yang berjudul Volkespsychologie juga membicarakan mengenai kemunculan bahasa. Dalam Teori Isyarat (The Gesture Theory) yang dibuatnya, bahwa bahasa isyarat timbul dari emosi dan gerakan-gerakan ekspresif yang tak disadari. Komunikasi gagasan-gagasan dilakukan dengan gerakan-gerakan tangan yang membantu gerakan-gerakan mimetik wajah seseorang, yaitu gerakan ekspresif untuk menyatakan emosi dan perasaan. Selain gerakan mimetik dan gerakan pantomimetik (pengungkapan ide) yang sudah ada, kemampuan untuk mendengar juga memungkinkan manusia untuk menciptakan jenis gerakan yang ketiga, yaitu gerakan artikulatoris. Dalam perkembangan selanjutnya, gerakan artikulatoris menjadi lebih penting dibanding kedua gerakan lainnya.
Setelah menguaraikan tiga  bidang penelitian mengenai bahasa anak-anak, bahasa suku-suku primitif, dan sejarah bahasa-bahasa, Jespersen, seorang filolog Denmark, menyimpulkan bahwa bahasa primitif menyerupai bahasa anak-anak. Hal ini terangkum dalam teori yang dikembangkannya, yaitu Teori Permainan Vokal. Pada awalnya, bahasa manusia berupa dengungan seperti nyanyian yang tidak bermakna yang kemudian berkembang menjadi sebuah wujud ungkapan yang semakin jelas dan teratur. Jespersen beranggapan bahwa bahasa manusia mula-mula bersifat puitis. Oleh karena itu, dalam teori ini terlihat bahwa pernyataan ideasional dan emosional dapat diungkapkan secara beriringan.
Dalam bukunya Human Speech, Sir Richard Speech mengemukakan teori mengenai asal usul bahasa yang disebut dengan Teori Isyarat Oral. Berikut adalah beberapa argumennya: “Pada mulanya manusia menyatakan gagasannya dengan isyarat tangan, tetapi tanpa sadar isyarat tangan itu diikuti juga oleh gerakan lidah, bibir, dan rahang. Ketika manusia melakukan isyarat dengan lidah, bibir, dan rahang maka udara yang dihembuskan melalui mulut (oral) atau lubang hidung akan mengeluarkan pula isyarat-isyarat yang dapat didengar sebagai ujaran berbisik. Paget selanjutnya memperlihatkan kesamaan antara bunyi-bunyi ‘sintetik’ dan beberapa kata dari bahasa primitif. Dalam hal ini, Paget dianggap sebagai orang yang meneruskan ide Wundt, yaitu Teori Isyarat.
Menurut Laguna, Teori Paget ini memiliki dua  kelemahan. Kelemahan pertama adalah adanya asumsi bahwa bahasa ujaran berkembang sebagai fenomena individual yang tergantung pada ide-ide yang memerlukan pengungkapan, sedangkan bahasa adalah upaya untuk mengkomunikasikan ide-ide itu. Kelemahan kedua adalah adanya asumsi bahwa awal mula ujaran baru muncul sesudah adanya ras manusia, karena ras manusia memiliki  proses mental tertentu yang diperlukan untuk berkomunikasi.
Teori yang juga berkembang adalah Teori Kontrol Sosial yang diajukan oleh Grace Andrus de Laguna. Menurutnya, ujaran adalah suatu medium yang besar yang memungkinkan manusia bekerja sama. Bahasa merupakan upaya yang mengkoordinasi dan menghubungkan macam-macam kegiatan manusia untuk tujuan bersama. Laguna membandingkan pemakaian bunyi-bunyi vokal manusia primitif dengan bunyi yang digunakan anak dewasa. Dalam hal ini, ia sependapat dengan Jespersen. Ia menyatakan bahwa permainan vokal adalah unsur yang penting pada waktu timbulnya bahasa. Oleh karena itu, dalam usahanya menelusuri evolusi ujaran dari teriakan binatang ke penggunaannya sebagai ujaran, Laguna melihat lebih jauh ke belakang bila dibandingkan Jespersen. Namun, Laguna menganggap bahwa ujaran didasarkan pada aktivitas kehidupan yang sungguh-sungguh bukan sekedar permainan yang menyenangkan dan kesenangan remaja.
G. Revesz turut menyumbangkan pengetahuannya mengenai kemunculan bahasa yang tercakup dalam teorinya, yaitu Teori Kontak. Dalam teori ini, Revesz menjelaskan bahwa munculnya sebuah bahasa didorong oleh adanya keinginan atau kebutuhan mahluk hidup untuk mengadakan kontak emosional kepada sesamanya. Kontak emosional ini merupakan kelanjutan dari kontak spasial yang sudah diwujudkan sebelumnya. Dengan adanya hubungan personal dan kontak emosional yang baik, terciptalah bahasa yang tentu saja mampu menjembatani kedua hal tersebut.
Adapun aspek yang cukup esensial lainnya menurut Revesz terkait dengan asal-usul bahasa adalah adanya keinginan untuk bertukar pikiran. Artinya, dalam hal ini yang hendak dicapai adalah terjalinnya kontak intelektual.
Berangkat dari adanya kebutuhan mahluk hidup untuk berkontak emosional, dapat ditandai bahwa bunyi-bunyi ekspresiflah yang mengawali terbentuknya bahasa. Evolusi bahasa yang dikemukakan Revesz dimulai dari tangisan yang tidak diarahkan pada individu tertentu, panggilan yang sudah dilakukan dengan tujuan, kemudian barulah terbentuk sebuah kata.
Teori selanjutnya mengenai asal-usul bahasa dikemukakan oleh Charles F. Hockett dan Robert Ascher yang dikenal dengan Teori Hockett-Ascher. Teori ini memaparkan asal-usul bahasa dan perkembangannya yang berkaitan erat dengan evolusi manusia. Disebutkan bahwa proto hominoid, primata yang diketahui sebagai asal-usul manusia dan hidup pada jutaan tahun silam, memiliki sistem panggilan untuk berkontak. Sistem panggilan belum dapat disebut bahasa. Para ahli menyebut system panggilan sebagai prabahasa.
Adapun yang membedakan sistem panggilan dari bahasa adalah bahwa sistem panggilan tidak memiliki ciri pemindahan yang dapat memungkinkan kita untuk membicarakan hal yang tidak ada dan yang teradi di masa lampau. Selain itu, masing-masing panggilan memiliki sifat eksklusif. Maksudnya, proto hominoid tidak dapat mengeluarkan satu panggilan. Misalnya, proto hominoid berada dalam suatu keadaan bahasa dan menemukan makanan di suatu tempat, maka panggilan yang dapat dikeluarkannya hanya salah satu saja, misalnya yang menunjukkan bahwa dirinya dalam keadaan bahaya saja. Keeksklusifan tersebut menunjukkan bahwa panggilan bersifat tertutup. Hal ini tentu bertentangan dengan bahasa yang bersifat terbuka atau produktif.
Pada perkembangan selanjutnya, sistem panggilan yang semula bersifat tertutup pun kemudian berkembang menjadi terbuka. Berkembangnya panggilan menjadi sistem yang terbuka ditandai dengan penggabungan dua panggilan. Walaupun demikian, panggilan tetap disebut sebagai prabahasa karena masih bersifat eksklusif pada kelompok tertentu.
Perubahan tubuh yang terjadi kemudian pada proto hominoid  memungkinkan mahluk tersebut menciptakan semakin banyak panggilan. Namun, hal ini berakibat semakin padatnya tempat akustik-artikulatoris sehingga bunyi-bunyi yang tercipta bermiripan. Akibatnya, terjadi sebuah perubahan besar: pramorfem yang semula berwujud panggilan menjadi morfem sesungguhnya, yaitu bunyi-bunyi yang tercipta kemudian diwakili oleh suatu komponen morfologis dan fonologis.
Berbagai teori yang telah disebutkan di atas mengisyaratkan hal yang sama, yaitu sebelum terciptanya bahasa, ujaran-ujaran yang dikeluarkan hominoid bersifat tertutup dan tidak produktif. Ujaran-ujaran tersebut belum dapat dikatakan sebagai bahasa seutuhnya. Sebagian ahli menyebutnya sebagai  bahasa  primitif dan sebagian lagi menyebutnya prabahasa, tergantung pada teori masing-masing.
Berdasarkan teori di atas, Teori Hockett-Ascher lah yang dengan lengkap menjelaskan kemunculan bahasa. Prabahasa yang berkembang menjadi bahasa haruslah terjadi beriringan dengan evolusi proto hominoid menjadi manusia. Hal tersebut karena kesempurnaan bahasa yang ditandai dengan bunyi-bunyian yang dikeluarkan alat ucap manusia tentu baru akan terwujud dengan didukung dengan kesempurnaan organ-organ artikulator manusia.

III.             FUNGSI BAHASA
Salah satu aspek penting dari bahasa ialah aspek fungsi bahasa. Secara umum fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi, bahkan dapat dipandang sebagai fungsi utama dari bahasa.
Kata komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari bahasa latin communication, dan bersumber dari kata communis yang berarti ‘sama’. Maksudnya adalah sama makna. Jika dua orang terlibat komunikasi, dalam bentuk percakapan, maka komunikasi akan terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai apa yang dipercakapkan. Kesamaan bahasa yang dipergunakan dalam percakapan itu belum tentu menimbulkan kesamaan makna.
Sedangkan jika dilihat dari perspektif kebahasaan, istilah komunikasi mencakup makna mengerti dan berbicara, mendengar dan merespons suatu tindakan.
Menurut P.W.J. Nababan, seorang linguis Indonesia, membagi fungsi bahasa sebagai komunikasi dalam kaitannya dengan masyarakat dan pendidikan menjadi empat fungsi, yaitu: 1) fungsi kebudayaan, 2) fungsi kemasyarakatan, 3) fungsi perorangan, dan 4) fungsi pendidikan.
Maka dapat disimpulkan bahwa dengan bahasa itulah manusia berkata, bercakap-cakap, melakukan interaksi dan komunikasi, mengungkapkan isi pikirannya, mengungkapkan segala gejolak yang ada dalam perasaannya, dan berargumentasi. Karena itulah, manusia sampai kapan pun tidak akan bisa melepaskan diri dari adanya bahasa sebagai suatu yang mesti ada.
Perlu diingat, bahwa bahasa juga tidak saja sebagai alat komunikasi untuk mengantarkan proses hubungan antar manusia, karena bahasa mampu mengubah seluruh kehidupan manusia. Artinya, bahwa bahasa merupakan salah satu aspek terpenting dari kehidupan manusia. Sekelompok manusia atau bangsa dalam kurun waktu tertentu tidak akan bisa bertahan jika dalam bangsa tersebut tidak ada bahasa.

IV.             AWAL MULA TUMBUHNYA BAHASA
Perkembangan teori linguistik dari jaman Yunani Kuno sampai sekarang tidak lepas dari adanya kontroversi. Kontroversi yang pertama sudah ada sejak abad keenam sebelum Masehi. Dua kubu yang saling berhadapan saat itu ialah kubu phusis dan kubu thesis. Kubu phusis percaya bahwa dalam bahasa itu ada keterkaitan antara kata dan alam. Keterkaitan antara kata dan alam itu, menurut kubu phusis, bersifat alami dan memang sangat diperlukan. Sebaliknya kubu thesis percaya bahwa hubungan antara kata dan alam sifatnya arbitrar dan konvensional.
Dalam mempertahankan pendiriannya, kubu phusis mengemukakan beberapa alasan. Pertama, adanya gejala onomatopoeia, yang berarti ‘gema suara alam.’ Maksud kaum phusis ialah bahwa gema suara alam itu dipakai manusia untuk menamakan konsep-konsep kebendaan yang ada di sekelilingnya. Pandangan terhadap gema suara alam itu berkembang lagi ke arah asosiasi antara warna, lagu, dengan perasaan. Perkembangan onomatopoeia yang mengasosiasikan warna dan lagu dengan perasaan itu sangat bermanfaat dalam sistem pengaturan cahaya, warna kostum lagu-lagu pengiring dalam pementasan seni, drama, dan tari.
Di lain pihak, dalam mempertahankan pendiriannya, kubu thesis mengutarakan bukti-bukti bahwa nama yang diberikan oleh manusia kepada benda-benda di sekitarnya tidak menurut kaidah tertentu, misalnya, menurut kaidah asosiasi antara nama benda dengan suara alam. Nama-nama yang diberikan itu hanyalah konvensi antara sesame anggota masyarakat pembicara dari suatu bahasa.
Kontroversi yang kedua terjadi sekitar abad ke-4 sebelum Masehi antara penganut faham Analogi dan penganut faham Anomali. Dalam bidang linguistik, kaum Analogi percaya bahwa bahasa itu tertata menurut aturan yang pasti. Keteraturan bahasa, menurut aliran Analogi, terdapat pada semua aspek: aspek fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik.
Di pihak lain, dalam bidang linguistik, para pengikut Anomali menyatakan bahwa sungguh sangat keterlaluan orang yang percaya bahwa bahasa itu tertata menurut susunan yang teratur.
Kontroversi ketiga timbul pada jaman Renaissance, antara para penganut empirisme dan para penganut rasionalisme. Kaum empiris percaya bahwa jiwa manusia itu mempunyai kemampuan, tetapi kita tidak tahu banyak tentang kemampuan itu. Dalam masalah bahasa, kaum empiris percaya bahwa bahasa itu dipelajari dari lingkungan sekitar. Jadi bahasa itu pada hakekatnya, menurut mereka, dipelajari.
Di pihak lain, kaum rasionalis dalam masalah bahasa menyangkal bahwa bahasa itu didapat dari lingkungan. Sebaliknya, mereka percaya bahwa bahasa itu sudah ada dalam jiwa manusia sebagai pembawaan.  Karena pada hakekatnya manusia itu mempunyai bawaan yang universal sifatnya.
Menurut kaum strukturalis, yang hadir dalam abad ke-20, konsep apapun dapat dihayati sebagai bangunan. Menurut konsep ini, bahasa dibangun dari kalimat-kalimat; kalimat dibangun dari klausa-klausa; selanjutnya, klausa dibangun dari frasa-frasa; frasa dibangun dari kata-kata; kata dibangun dari morfem-morfem; dan akhirnya, morfem dibangun dari fonem.

V.                KESIMPULAN
Masih banyak perdebatan tentang masalah “Awal Mula Tumbuhnya Bahasa”. Jika pun ada yang berpendapat, maka itu hanya bersifat dugaan saja.  Banyak para ahli dengan kepercayaan dan filosofi dirinya sendiri mengeluarkan berbagai macam pendapat. Ada yang mempercayai bahwa dalam bahasa itu ada “keterkaitan antara kata dan alam”. Tak sedikit pula yang membantahnya dengan pendapatnya bahwa “hubungan antara kata dan alam sifatnya arbitrar dan konvensional.”.
Kontroversi tentang masalah ini terus berlanjut hingga abad ke-20 bahkan hingga sekarang pun tetap demikian. Ada yang berujar bahwa “bahasa itu tertata menurut aturan yang pasti. Dan keteraturan bahasa, terdapat pada semua aspek: aspek fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik.”. dan lagi-lagi hal ini pun disanggah oleh pihak lain.
 Bahkan dari sumber yang berkembang pada abad ke-20 mengatakan bahwa “bahasa dibangun dari kalimat-kalimat; kalimat dibangun dari klausa-klausa; selanjutnya, klausa dibangun dari frasa-frasa; frasa dibangun dari kata-kata; kata dibangun dari morfem-morfem; dan akhirnya, morfem dibangun dari fonem.”.
Banyak sekali sumber yang dapat dijadikan referensi dalam hal ini. Tetapi saya dapat menyimpulkan dari hasil gabungan semua sumber tersebut bahwasanya bahasa adalah: “simbol yang dihasilkan lewat proses arbitrer (mana suka), yang berlanjut pada konvensi (disetujui masyarakat), dan terikat secara sistematis (aturan atau pola), yang berbentuk vokal (lisan), dan bersifat manusiawi (hanya manusia yang punya bahasa). Meskipun lagi-lagi ada yang menyatakan bahwa bukan manusia saja yang memiliki bahasa, tetapi hewan dan alam pun memiliki bahasanya masing-masing. Dan ada pula yang menyanggahnya kembali bahwa hewan dan alam tidak memiliki bahasa melainkan itu hanyalah sebuah interaksi. Charless Osgood dalam sebuah bukunya berujar “…..berbeda dengan manusia yang melibatkan proses berpikir dan kesadaran, bentuk bahasa binatang semata-mata bersifat fisis.”
Wallahu A’lam Bis-Shawab

Sanjaya. Rizki. Awal Mula Tumbuhnya Bahasa. Melalui http://rizkimasbox.blogspot.com/2013/02/awal-mula-tumbuhnya-bahasa.html. Diakses Hari, 00 Bulan 0000.

DAFTAR PUSTAKA
Andriana, Winda. Asal Usul Bahasa. Melalui http://kampusmaya.org/2012/02/23/asal-usul-bahasa/. diakses Rabu, 20 Februari 2013.

Bahasa. Melalui http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa. diakses Rabu, 28 November 2012

Faqihuddin, Didin. BAHASA: PERTUMBUHAN DAN ASAL-USULNYA. Melalui dienfaqieh.wordpress.com/.../bahasa-pertumbuhan-dan-asal-usulnya/. Diakses Rabu, 20 Februari 2013.

Hidayat, Asep Ahmad. 2006. Filsafat BAHASA. Bandung: ROSDA.

Kushartanti, dkk. 2009. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Rawit, Intan. Teori Asal Mula Bahasa. Melalui http://intan.blog.ugm.ac.id/2012/10/19/teori-asal-mula-bahasa/. diakses Rabu, 20 Februari 2013.

Wahab, Abdul. 1991. ISU LINGUISTIK Pengajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: Airlangga University Press.
 

Bandung, Jumat, 22 Februari 2013
Rizki Sanjaya (Mahasiswa UNPAD, Fakultas Ilmu Budaya, Sastra Sunda 2012)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar