Rabu, 02 Januari 2013

NOVEL DALAM KESUSASTRAAN SUNDA


NOVEL DALAM SEJARAH SASTRA SUNDA
I.            PENDAHULUAN
Novel bukan berasal dari bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda. Tetapi berasal dari bahasa asing. Seperti dikemukakan oleh Tarigan “Kata novel berasal dari kata Latin ‘novellus’ yang diturunkan pula dari kata ‘novies’ yang berarti baru. Dikatakan baru karena kalau dibandingkan dengan jenis sastra lainnya” (1984:164). Sudjiman dalam bukunya “Kamus Istilah Sastra” berpendapat bahwa novel adalah prosa rekaan yang panjang yang menyuguhkan tokoh-tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa dan latar secara tersusun; istilah lain Roman” (1986:53).
Dalam kesusastraan Inggris tak ada pembedaan antara roman dan novel. Baik roman maupun novel disebut novel saja. Dalam kesusastraan Indonesia dibedakan roman daripada novel. (Badudu, 1984:51). Selain novel, ada juga istilah roman dan novelete. Tetapi dalam sastra Sunda istilah tersebut tidak dibedakan dengan novel. Maksudnya, baik roman maupun novelete, sama-sama disebut novel saja dalam kesusastraan Sunda (Rahayu, dkk, 1994:171)
Novel merupakan cerita rekaan yang berbentuk prosa dan isinya menceritakan kehidupan sehari-hari. Seperti yang diungkapkan oleh Yus Rusyana (1979:7) bahwa novel adalah gambaran kehidupan dan tingkah laku yang nyata. Menurut J.S. Badudu dalam novel dilukiskan hanya sebagian dari hidup tokoh cerita, bagian hidup yang mengubah nasibnya. (Badudu, 1984:51).
Novel beraliran realisme, kadang-kadang naturalisme (Badudu, 1984:51). Kemudian Maryati (1984:7) merumuskan tentang ketenuan novel ialah:
·         Sebuah cerita (fiksi), bukan uraian ilmu pengetahuan.
·         Bentuknya prosa.
·         Isinya lebih realistis, kurang fantastis, penuh kenyataan dan masuk akal.
·         Landasannya segala proses kehidupan sehari-hari
·         Waktu berlangsungnya kejadian cukup lama

II.            KRITERIA NOVEL
Novel merupakan karya sastra imajinatif. Oleh karena itu membebaskan penulisnya dari segala tuntutan data. Sastra imajinatif bebas mengulas bahan apa saja. Ia tidak terikat pada kenyataan yang sudah terjadi atau sedang terjadi, bahkan kenyataan yang tak mungkin terjadi dalam kehidupan ini dapat dituangkan dalam karya sastra imajinatif (Sumadjo, 1984:48). Novel adalah gambaran dari kehidupan dan perilaku yang nyata, dari zaman pada saat novel itu ditulis (Clara Reeve, Wellek&Warren 1987:282). Mengingat sebuah novel merupakan kumpulan cerita maka dengan sendirinya si pengarang berusaha mengungkapkan sususan ceritanya secara utuh. Karena novel mempunyai tujuan menyampaikan cerita kepada pembacanya. Sehingga bila dilihat dari segi cerita tampak bahwa novel tersusun dari sejumlah kejadian (Rusyana, 1979:32). Kejadian-kejadian itu dalam novel Sunda diurutkan menurut kronologi waktu.  Sebagai pengarang cerita, pengarang novel sunda telah berusaha membuat pembacanya ingin tahu akan apa yang terjadi kemudian dan itulah jasa sebuah cerita (Rusyana, 1979:110).
Berdasarkan hal tersebut, maka pengarang berusaha menciptakan kepenasaran kepada pembacanya, sehingga tanpa terasa kita dibawa hanyut oleh jalannya cerita. Kita seolah-olah ikut mengalami sendiri apa yang diceritakan oleh pengarang, dengan sendirinya kita akan terus mengikuti cerita tersebut hingga selesai.
Cerita itu merupakan serangkaian peristiwa yang disunting dalam urutan waktunya. Cerita merupakan organisme sastra yang paling rendah dan paling sederhana. Namun cerita itu merupakan unsur yang tertinggi yang umum bagi semua organisme yang rumit yang dikenal sebagai novel dan tanpa cerita novel tak mungkin ada (Forster, 1979:30-32).
Novel sebagai karya sastra tentu saja mempunyai struktur. Gorys Keraf mengatakan bahwa sesuatu dikatakan mempunyai struktur, bila ia terdiri dari bagian-bagian yang secara fungsional berhubungan satu sama lainnya (1983:145). Hubungan tersebut merupakan interelasi antara unsur-unsur pembentuknya (Umar Yunus, 1981:17). Kemudian Dick Hartoko menambahkan: “Yang dimaksud dengan istilah struktur ialah kaitan-kaitan tetap antara kelompok-kelompok gejala (1984:36). Sedangkan menurut Sudjiman “Tata hubungan antara bagian-bagian suatu karya sastra: jadi kebulatannya” (Sudjiman, 1986:72).
Analisis terhadap novel ini berdasarkan pada segi intrinsiknya yang dibatasai pada masalah alur, latar, perwatakan, penokohan, tema dan amanat.
A.    Alur
Alur berfungsi menjalin cerita secara utuh dari permulaan sampai akhir. Menurut Dick Hartoko yang dimaksud alur ialah kontruksi yang dibuat pembaca mengenai deretan peristiwa yang secara logik dan kronologik saling berkaitan dan yang diakibatkan atau dialami oleh para pelaku (Hartoko, 1985:149).
Jadi yang disebut alur adalah serentetan kejadian yang ada sangkut pautnya dari satu kejadian dengan kejadian yang lainnya yang merupakan sebab akibat. Sumardjo mengatakan bahwa fiksi dimulai dengan menceritakan suatu keadaan, keadaan itu mengalami perkembangan dan pada akhirnya ditutup dengan sebuah penyelesaian. Jadi pola cerita selalu: perkenalan-keadaan-pekembangan-penutup. Itulah yang disebut pola alur. Menurut Yus Rusyana (1979:110) “Alur adalah kisah peristiwa-peristiwa, tetapi peristiwa-peristiwa itu telah disusun dalam struktur sebab akibat. Hubungan antar peristiwa bukan hanya urutan waktu seperti dalam cerita, melainkan juga menurut logika” di dalam alur biasanya peristiwa-peristiwa itu menimbulkan konflik. Konflik dalam novel Sunda ada dua macam, yaitu konflik luar dan konflik dalam. Konflik luar ialah pertentangan antara seseorang dengan kekuatan di luar dirinya, berupa alam, pribadi lain, dan masyarakat. Sedangkan konflik dalam yaitu pertentangan yang terjadi dalam diri sesorang (Rusyana, 1979:120).
Kesimpulannya alur adalah rangkaian peristiwa berdasarkan sebab akibat yang terjadi secara logik kemudian mengakibatkan adanya konflik dalam cerita tersebut. “Alur yang baik ialah alur yang dapat mengungkapkan tema dan amanat dari peristiwa-peristiwa serta adanya hubungan kausalitas (sebab akibat) yang wajar antara peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain (Esten, 1984:26).
B.     Latar
Latar atau yang lebih dikenal dengan setting adalah tempat dan masa terjadinya cerita (Sumardjo, 1984:69). Kemudian Rene Wellek dan Austin Warren mengemukakan bahwa latar adalah tempat terjadinya peristiwa, yang menciptakan suasana tertentu dalam suatu cerita serta mempunyai hubungan yang erat dengan waktu. Adanya unsur waktu ini yang membedakan antara narasi dengan deskripsi literer (Wellek dan Warren, 1977:87).
Unsur prosa cerita yang disebut latar ini menyangkut tentang lingkungan geografi, sejarah, sosial dan bahkan kadang-kadang lingkongan politik atau latar belakang tempat kisah itu berlangsung. Daftar ini kadang-kadang dikemukakan secara tersurat oleh pengarangnya sebelum ia menuturkan ceritanya. Akan tetapi ada juga pengarang yang baru memunculkan latar ceritanya setelah perkembangan kisahnya cukup lama. Latar pada sebuah novel kadang-kadang tidak berubah sepanjang ceritanya, meski kadangkala dalam beberapa novel lain berubah-ubah dan bahkan kontras satu sama lain. (Bernadus, 1988:70).
Latar terbagi menjadi tiga, yaitu:
·         Waktu
Menurut Gorys Keraf, “Suatu tindak-tanduk selalu terjadi dalam waktu. Gerak laju suatu peristiwa selalu dihitung dari suatu titik waktu tertentu menuju ke suatu titik waktu yang lain. Gerakan waktu harus diartikan sebagai suatu laju dari awal kejadian sampai suatu peristiwa berakhir (1985:169-170).
Setiap novel berusaha dengan jelas melukiskan kapan seluruh peristiwa dalam cerita itu berlangsung. Sebab dengan melukiskan waktu di dalam cerita tersebut, maka si pembaca dapat menebak kapan waktu peristiwa dalam cerita itu terjadi.
·         Tempat
Menurut Rusyana (1979:146) “Di samping memberikan gambaran waktu peristiwa, novel-novel Sunda menyajikan pula gambaran tempat peristiwa”.
Latar tempat sama pentingnya dengan latar waktu. Latar tempat selain menjelaskan tempat kejadian, juga memberikan kesan seperti dalam kenyataannya. Tentunya sebelum si pengarang menuangkan ceritanya dalam sebuah buku dia harus mengetahui keadaan latar tempat yang dipakai sebagai objek ceritanya.
·         Suasana
Setiap karya fiksi ditulis dengan maksud tertentu. Maksud pengarang ini tidak hanya tercermin dalam tema saja, tetapi juga dalam suasana cerita. Suasana cerita membantu menegaskan tema (Sumardjo, 1984:61).
Pada umumnya suasana dalam sebuah cerita fiksi dibentuk bersama pelukisan tokoh utamanya. Pengarang memakai tokoh utama untuk mengendalikan cerita, agar pembaca dapat mengikuti suasana yang ditimbulkan oleh cerita itu. Dengan demikian pembaca akan dibawa hanyut oleh jalannya cerita.
           
Maka kesimpulannya adalah, latar itu merupakan salah satu unsur yang paling penting dalam suatu cerita, karena latar tidak bisa dipisahkan dari unsur-unsur lainnya di dalam membentuk suatu keutuhan strukturnya. Latar hadir bersama peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tokoh-tokohnya. Maka ketiga jenis latar itu (waktu, tempat dan suasana), dalam sebuah cerita tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, sebab ketiga jenis latar itu akan menunjang satu dengan lainnya.
C.    Perwatakan
Sebuah novel selalu menunjukkan perwatakan. Daya tarik sebuah novel terpancar lewat imajinasi kreatif si pengarang. Lewat imajinasi pengarang itulah, pembaca dapat berkenalan dengan sejumlah variasi tipe manusia berikut permasalahannya. (Bernadus, 1988:70)
Seseorang yang membaca novel biasanya tertarik akan persepsi, penafsiran, dan pemahaman tokoh-tokoh yang dihadirkan pengarang.
D.    Tokoh dan Penokohan

1.      Tokoh
Sebuah cerita terbentuk karena ada pelaku ceritanya (Sumardjo, 1984:56): Pelaku yang penulis maksud adalah pelaku dalam sebuah cerita, karena melalui pelaku inilah kita akan mengikuti cerita hingga selesai. Gorys Keraf (1985:164) menjelaskan, karakter-karakter adalah tokoh-tokoh dalam sebuah narasi:
Yus Rusyana (1979:128) menjelaskan: “Pelaku dalam sebuah cerita dapat dibedakan bedasarkan peranannya, yaitu atas pelaku utama, pelaku pelengkap dan pelaku figuran”.
Di dalam sebuah karya sastra (novel) kehadiran tokoh memegang peranan penting. Karena tokoh merupakan sarana penting bagi pengarang di dalam menjalin peristiwa-peristiwa serta mengerahkan jalan cerita menuju suatu tujuan. Kehadiran tokoh selalu diikuti penampilan watak tokoh. Tarigan berpendapat bahwa tokoh dan alur berhubungan erat satu sama lain (1984:148).
2.      Penokohan
Penokohan ialah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan watak tokoh-tokoh dalam sebuah cerita rekaan (Esten, 1984:27). Perwatakan (karakterisasi) dalam pengisahan dapat diperoleh dengan usaha member gambaran mengenai tindak-tanduk dan ucapan-ucapan tokohnya (pendukung karakter), sejalan tidaknya kata dan perbuatan, Gorys Keraf (1985:164)
Cara yang paling sederhana dalam melakukan penokohan ialah dengan memberi nama kepada pelaku (Wellek dan Warren, 1979:86). Rusyana menambahkan “Cara lain melakukan penokohan adalah dalam bentuk percakapan antar pelaku, tindak-tanduk pelaku, pernyataan pelaku lain” (1979:131). Menurut Sumardjo (1984:57) “Untuk mengenal watak seseorang tokoh cerita kita dapat meneliti: apa yang dilakukannya, apa yang dikatakannya, apa sikapnya dalam menghadapi persoalan, dan bagaimana penilaian tokoh lain atas dirinya, pemerian.” Untuk mengetahui watak seorang tokoh kita dapat meneliti dari tingkah lakunya, caranya berbicara, pernyataan lain atas dirinya. “bahwa didalam penokohan dapat dilakukan dengan cara: penamaan, pemerian, percakapan dialog dan monolog, pernyataan tokoh lain, dan tingkah laku tokoh. Bila hal itu sudah kita ketahui, maka tentunya kita sudah dapat menebak watak tokoh itu dalam cerita yang kita baca.
E.     Tema
Tema adalah pokok perbincangan dalam sebuah cerita (Sumardjo, 1984:57). Tema adalah pokok perbincangan perilaku atau gerakan yang mendasari atau pokok umum, dan berkenaan dengan pokok tersebut cerita yang bersangkutan merupakan sebuah ilustrasinya.
Tema merupakan pokok perbincangan perilaku atau gerakan yang mendasari pokok perbincangan perilaku atau gerakan yang mendasari sebuah cerita. Dalam novel terdapat pokok perbincangan yang mendasari peristiwa-peristiwa secara keseluruhan.
Tarigan (1984:125) mengatakan bahwa tema merupakan hal yang paling penting dalam sebuah cerita. Suatu cerita yang tak mempunyai tema tentu tak ada guna dan artinya. Walaupun misalnya pengarang tidak menjelaskan apa tema ceritanya secara eksplisit, hal itu harus dirasakan dan disimpulkan oleh para pembaca setelah selesai membacanya.
Tema merupakan unsur yang paling penting dalam sebuah cerita, sebab bila cerita tidak memiliki tema maka cerita tersebut tidak ada artinya.
F.     Amanat
Amanat adalah gagasan yang mendasari karya sastra: pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar. Di dalam karya sastra modern amanat ini biasanya tersirat: di dalam karya sastra lama pada umumnya amanat tersurat (Sudjiman, 1986:5). Menurut Syofyan Z. dan Ny. Suari S. (1981:2): “Setiap karya sastra berisi pokok pembicaraan, masalah atau tema dan pendapat pengarang tentang masalah tersebut. Pendapat ini merupakan pesan atau amanat yang tersembunyi. Makin penting atau makin besar masalah tersebut, maka makin jelas dan kuat amanat atau pesan pengarang”.
Amanat merupakan pokok pembicaraan atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembacanya. Di dalam amanat kita dapat melihat pandangan hidup, gagasan dan cita-cita pengarang. Kemudian Esten menambahkan: “Amanat adalah pemecahan suatu tema. Amanat dapat diungkapkan secara eksplisit (berterang-terangan) dan dapat juga secara implisit (tersirat). Bahkan ada amanat yang tidak Nampak sama sekali. Umumnya ciptasastra modern memiliki amanat secara implisit” (Esten, 1984:22).
Bila dibandingkan dengan tema, amanat sifatnya lebih sederhana karena amanat merupakan pemecahan suatu tema. Amanat sering juga disebut tema pelengkap sedangkan tema adalah tema utama. Untuk mencari amanat sebuah hasil karya sastra modern tidaklah gampang, tidak seperti hasil karya sastra lama karena pengarang berusaha dengan jelas menyampaikan gagasan pikirannya melalui permasalahan yang tidak begitu sulit.
I.            KELAHIRAN NOVEL
1.      Selintas Perkembangan Sastra Sunda Sampai Dengan Novel
Sejak awal abad ke-20, timbul karya sastra daerah yang ditulis dengan bahasa daerah (bahasa ibu) oleh sastrawan muda daerah, lebih-lebih sastra Sunda (Pradopo, dalam Hudayat, 2012:vii). Kemudian Rachmat Djoko Pradopo berujar lagi, “Sastra daerah tersebut merupakan sambungan sastra daerah sebelumnya meskipun ditulis dengan genre (jenis sastra) baru, (Pradopo, dalam Hudayat, 2012:vii).
Bentuk novel dalam dunia kesusastraan Sunda mulai dikenal setelah mendapat pengaruh dari kesusastraan Barat. Sejak dikenalnya novel tersebut, perkembangannya cukup pesat, terbukti dengan cukup banyaknya penerbitan karya sastra dalam bentuk ini. Baik yang diterbitkan berupa buku maupun dalam majalah dan surat kabar berbahasa Sunda.
Sejarah sastra Sunda mencatat bahwa simbol kebaruan masyarakat Sunda salah satunya direpresentasikan melalui genre baru tradisi penulisan karya sastra berbentuk novel (Hudayat, 2012:4).
Novel yang pertama dalam sastra Sunda adalah Baruang ka nu Ngarora karangan Daeng Kanduruan Ardiwinata (D.K. Ardiwinata), terbit pada tahun 1914. Apabila dibandingkan dengan novel pertama dalam sastra Indonesia, Azab dan Sengsara karangan Merari Siregar, yang baru terbit pada tahun 1920, maka novel dalam sastra Sunda lebih dahulu terbit sekitar enam tahun. (Rahayu, dkk, 1994:171).
Maka dapat disimpulkan bahwa kesusastraan Sunda lebih dahulu mengenal novel, dan kurang pas apabila novel di sastra Sunda disebutkan merupakan pengaruh dari sastra Indonesia. (Rahayu, dkk, 1994:171).
2.      Sekilas Meninjau Perkembangan Sastra Sunda Sampai Dengan Lahirnya Bentuk Novel
(Yus Rusyana, 1979:vx) bahwa sebagai pertambahan karya baru, sejak kelahiran dan perkembangannya merupakan suatu keseluruhan yang berkembang. Perkembangannya pada satu pihak bertautan dengan tradisi sastra Sunda sebelumnya, dan pada pihak lain merupakan karya pembaharuan yang bersuasanakan kenalaran. Adapun yang dimaksud dengan karya pembaharuan yang bersuasanakan kenalaran, karena karya sastra sebelumnya atau terdahulu selalu berfokus pada ketahayulan, misalnya kepercayaan pada kesaktian, keajaiban, alam super natural, dan kegaiban. Sedangkan karya sastra dewasa ini sudah beralih ke alam kenyataan.
Khasanah kesusastraan Sunda sangat kaya akan bentuk, seperti juga dengan kesusastraan- kesusastraan lain, sejarah kesusastraan Sunda dimulai dengan kesusastraan lisan (Ajip Rosidi, 1966:1), yang diawali oleh lahirnya cerita dongeng dan pantun yang diperkirakan lahir dalam kurun waktu yang sama. Pada tahun 1518 cerita pantun sudah dikenal dan berkembang. Dalam cerita pantun digambarkan manusia yang gede hate leber wawanen (gagah berani), isinya menceritakan raja-raja Padjadjaran dan sebelumnya (Yus Rusyana, 1981:80).
Menurut periodisasi sastra Sunda yang dikemukakan oleh Yus Rusyana, pada periode lahirnya pantun ini sejajar pula dengan dikenalnya mantra, kakawihan, dan sawer. Baik pantun, mantra, kakawihan, maupun sawer, keseluruhannya tersaji dalam bentuk puisi yang sudah menjadi ciri sastra Sunda lama (Yus Rusyana, 1969:9-10).
Bentuk syair yang berasal dari pengaruh Arab dengan masuknya Islam ke Jawa Barat, mulai dikenal pada tahun 1552. Bentuk syair tersebut sering kita jumpai dinyanyikan orang dalam upacara sawer, pupujian, dan sebagainya (Ajip Rosidi, 1966:10). Sawer adalah suatu upacara adat yang umum di daerah Sunda untuk mendoakan keselamatan dan keberuntungan bayi yang baru lahir, anak yang baru disunat, atau lebih dikenal lagi sawer pada orang yang baru menikah. Sedangkan pupujian adalah nyanyian untuk memuja Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Dalam syair pupujian banyak sekali terdapat kata-kata Arab. Pupujian baru dikenal orang setelah adanya Islam.
Pada pertengahan abad ke-17 datang pengaruh dari kesusastraan Jawa yang melahirkan bentuk wawacan yang mencapai puncaknya pada abad ke-19. Cerita wawacan sering kali melukiskan kebesaran, kesaktian, kepintaran, keagungan, kebijaksanan para raja dan para putra raja serta pejabat kerajaan. Juga para pendeta atau para kiai (Ajip Rosidi, 1966:12).
Setelah itu sampai awal abad ke-19 kesusastraan Sunda belum memperoleh bentuk karya sastra yang baru lagi, tetapi karya sastra yang telah ada tersebut terus mengalami perkembangan.
Kesusastraan Sunda semakin diperkaya oleh datangnya pengaruh dari Barat pada abad ke-19. Berdirinya Balai Pustaka ternyata merupakan peristiwa penting bagi perkembangan sastra Sunda pada awal abad ke-20 (Maryati, 1984:2), karena turut membantu memperkaya khasanah sastra Sunda dalam berbagai segi. Di antaranya telah tumbuh karya sastra dalam bentuk dan kreasi baru, banyak karya-karya terjemahan serta semakin suburnya para penulis baru yang turut mendukung perkembangan kesusastraan Sunda.
Dalam buku Galuring Sastra Sunda karya Yus Rusyana, dijelaskan bahwa novel keluar sekitar Mangsa Kaopat, yaitu sekitar tahun 1900-1945 Masehi. Itu juga dikarenakan adanya persentuhan dengan budaya Barat lebih intensif (Rusyana, 1969:25-28). Hasil sastra modern pada abad ke-20 antara lain ditandai oleh bentuk novel. Novel Baruang Ka Nu Ngarora karangan D.K. Ardiwinata yang diterbitkan pada tahun 1914 dianggap sebagai novel Sunda pertama (Yus Rusyana, 1979:1).
Kelahiran novel antara lain dipengaruhi juga oleh tuntutan masyarakatnya. Sebagai salah satu hasil karya sastra Sunda modern yang cukup penting, novel adalah hasil pembaharuan yang dijalankan dalam sastra Sunda.
Pengaruh dari sastra Barat lainnya adalah cerpen. Pada tahun 1930, terbit sebuah kumpulan cerpen dalam bahasa Sunda yang pertama yaitu Dogdog Pangrewong yang bersembunyi di belakang inisial G.S. (Ajip Rosidi, 1966:102)
Bentuk puisi yang telah mendapat pengaruh dari sastra Barat adalah sajak bebas, banyak dimuat di majalah dan di antaranya ada yang telah dibukukan, seperti karangan Sayudi yang berjudul Lalaki di Tegal Pati, karangan Yus Rusyana yang berjudul Nu Mahal ti Batan Inten, karangan Ajip Rosidi yang berjudul Jante Arkidam, dan sebagainya.
Dalam kesusastraan Sunda dikenal pula adanya drama dalam bentuk sandiwara, wayang golek, reog, longser, gending karesmen, dan sebagainya. Longer adalah semacam teater arena yang sangat sederhana, dan gending karesmen adalah opera bernafaskan Sunda.
Novel merupakan hasil cipta sastra pada periode terakhir yang mendapat pengaruh dari Barat (Yus Rusyana, 1969:26). Bila ditinjau dari usianya, dapat dikatakan masih muda, karena diperkirakan baru dikenal pada awal abad ke-20. Walaupun demikian, kehadirannya cukup penting dalam memperkaya kesusastraan Sunda yang sudah ada sebelumnya.


I.            KELAHIRAN NOVEL
1.      Selintas Perkembangan Sastra Sunda Sampai Dengan Novel
Sejak awal abad ke-20, timbul karya sastra daerah yang ditulis dengan bahasa daerah (bahasa ibu) oleh sastrawan muda daerah, lebih-lebih sastra Sunda (Pradopo, dalam Hudayat, 2012:vii). Kemudian Rachmat Djoko Pradopo berujar lagi, “Sastra daerah tersebut merupakan sambungan sastra daerah sebelumnya meskipun ditulis dengan genre (jenis sastra) baru, (Pradopo, dalam Hudayat, 2012:vii).
Bentuk novel dalam dunia kesusastraan Sunda mulai dikenal setelah mendapat pengaruh dari kesusastraan Barat. Sejak dikenalnya novel tersebut, perkembangannya cukup pesat, terbukti dengan cukup banyaknya penerbitan karya sastra dalam bentuk ini. Baik yang diterbitkan berupa buku maupun dalam majalah dan surat kabar berbahasa Sunda.
Sejarah sastra Sunda mencatat bahwa simbol kebaruan masyarakat Sunda salah satunya direpresentasikan melalui genre baru tradisi penulisan karya sastra berbentuk novel (Hudayat, 2012:4).
Novel yang pertama dalam sastra Sunda adalah Baruang ka nu Ngarora karangan Daeng Kanduruan Ardiwinata (D.K. Ardiwinata), terbit pada tahun 1914. Apabila dibandingkan dengan novel pertama dalam sastra Indonesia, Azab dan Sengsara karangan Merari Siregar, yang baru terbit pada tahun 1920, maka novel dalam sastra Sunda lebih dahulu terbit sekitar enam tahun. (Rahayu, dkk, 1994:171).
Maka dapat disimpulkan bahwa kesusastraan Sunda lebih dahulu mengenal novel, dan kurang pas apabila novel di sastra Sunda disebutkan merupakan pengaruh dari sastra Indonesia. (Rahayu, dkk, 1994:171).
2.      Sekilas Meninjau Perkembangan Sastra Sunda Sampai Dengan Lahirnya Bentuk Novel
(Yus Rusyana, 1979:vx) bahwa sebagai pertambahan karya baru, sejak kelahiran dan perkembangannya merupakan suatu keseluruhan yang berkembang. Perkembangannya pada satu pihak bertautan dengan tradisi sastra Sunda sebelumnya, dan pada pihak lain merupakan karya pembaharuan yang bersuasanakan kenalaran. Adapun yang dimaksud dengan karya pembaharuan yang bersuasanakan kenalaran, karena karya sastra sebelumnya atau terdahulu selalu berfokus pada ketahayulan, misalnya kepercayaan pada kesaktian, keajaiban, alam super natural, dan kegaiban. Sedangkan karya sastra dewasa ini sudah beralih ke alam kenyataan.
Khasanah kesusastraan Sunda sangat kaya akan bentuk, seperti juga dengan kesusastraan- kesusastraan lain, sejarah kesusastraan Sunda dimulai dengan kesusastraan lisan (Ajip Rosidi, 1966:1), yang diawali oleh lahirnya cerita dongeng dan pantun yang diperkirakan lahir dalam kurun waktu yang sama. Pada tahun 1518 cerita pantun sudah dikenal dan berkembang. Dalam cerita pantun digambarkan manusia yang gede hate leber wawanen (gagah berani), isinya menceritakan raja-raja Padjadjaran dan sebelumnya (Yus Rusyana, 1981:80).
Menurut periodisasi sastra Sunda yang dikemukakan oleh Yus Rusyana, pada periode lahirnya pantun ini sejajar pula dengan dikenalnya mantra, kakawihan, dan sawer. Baik pantun, mantra, kakawihan, maupun sawer, keseluruhannya tersaji dalam bentuk puisi yang sudah menjadi ciri sastra Sunda lama (Yus Rusyana, 1969:9-10).
Bentuk syair yang berasal dari pengaruh Arab dengan masuknya Islam ke Jawa Barat, mulai dikenal pada tahun 1552. Bentuk syair tersebut sering kita jumpai dinyanyikan orang dalam upacara sawer, pupujian, dan sebagainya (Ajip Rosidi, 1966:10). Sawer adalah suatu upacara adat yang umum di daerah Sunda untuk mendoakan keselamatan dan keberuntungan bayi yang baru lahir, anak yang baru disunat, atau lebih dikenal lagi sawer pada orang yang baru menikah. Sedangkan pupujian adalah nyanyian untuk memuja Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Dalam syair pupujian banyak sekali terdapat kata-kata Arab. Pupujian baru dikenal orang setelah adanya Islam.
Pada pertengahan abad ke-17 datang pengaruh dari kesusastraan Jawa yang melahirkan bentuk wawacan yang mencapai puncaknya pada abad ke-19. Cerita wawacan sering kali melukiskan kebesaran, kesaktian, kepintaran, keagungan, kebijaksanan para raja dan para putra raja serta pejabat kerajaan. Juga para pendeta atau para kiai (Ajip Rosidi, 1966:12).
Setelah itu sampai awal abad ke-19 kesusastraan Sunda belum memperoleh bentuk karya sastra yang baru lagi, tetapi karya sastra yang telah ada tersebut terus mengalami perkembangan.
Kesusastraan Sunda semakin diperkaya oleh datangnya pengaruh dari Barat pada abad ke-19. Berdirinya Balai Pustaka ternyata merupakan peristiwa penting bagi perkembangan sastra Sunda pada awal abad ke-20 (Maryati, 1984:2), karena turut membantu memperkaya khasanah sastra Sunda dalam berbagai segi. Di antaranya telah tumbuh karya sastra dalam bentuk dan kreasi baru, banyak karya-karya terjemahan serta semakin suburnya para penulis baru yang turut mendukung perkembangan kesusastraan Sunda.
Dalam buku Galuring Sastra Sunda karya Yus Rusyana, dijelaskan bahwa novel keluar sekitar Mangsa Kaopat, yaitu sekitar tahun 1900-1945 Masehi. Itu juga dikarenakan adanya persentuhan dengan budaya Barat lebih intensif (Rusyana, 1969:25-28). Hasil sastra modern pada abad ke-20 antara lain ditandai oleh bentuk novel. Novel Baruang Ka Nu Ngarora karangan D.K. Ardiwinata yang diterbitkan pada tahun 1914 dianggap sebagai novel Sunda pertama (Yus Rusyana, 1979:1).
Kelahiran novel antara lain dipengaruhi juga oleh tuntutan masyarakatnya. Sebagai salah satu hasil karya sastra Sunda modern yang cukup penting, novel adalah hasil pembaharuan yang dijalankan dalam sastra Sunda.
Pengaruh dari sastra Barat lainnya adalah cerpen. Pada tahun 1930, terbit sebuah kumpulan cerpen dalam bahasa Sunda yang pertama yaitu Dogdog Pangrewong yang bersembunyi di belakang inisial G.S. (Ajip Rosidi, 1966:102)
Bentuk puisi yang telah mendapat pengaruh dari sastra Barat adalah sajak bebas, banyak dimuat di majalah dan di antaranya ada yang telah dibukukan, seperti karangan Sayudi yang berjudul Lalaki di Tegal Pati, karangan Yus Rusyana yang berjudul Nu Mahal ti Batan Inten, karangan Ajip Rosidi yang berjudul Jante Arkidam, dan sebagainya.
Dalam kesusastraan Sunda dikenal pula adanya drama dalam bentuk sandiwara, wayang golek, reog, longser, gending karesmen, dan sebagainya. Longer adalah semacam teater arena yang sangat sederhana, dan gending karesmen adalah opera bernafaskan Sunda.
Novel merupakan hasil cipta sastra pada periode terakhir yang mendapat pengaruh dari Barat (Yus Rusyana, 1969:26). Bila ditinjau dari usianya, dapat dikatakan masih muda, karena diperkirakan baru dikenal pada awal abad ke-20. Walaupun demikian, kehadirannya cukup penting dalam memperkaya kesusastraan Sunda yang sudah ada sebelumnya.
I.            PEMBAGIAN NOVEL
1. Novel Anak
Novel anak adalah novel yang ditujukan untuk bacaan anak-anak. Masalah yang diceritakannya adalah masalah-masalah yang dekat kaitannya dengan kehidupan anak-anak pada umumnya. Begitu juga cara menghadapinya dan menyelesaikan suatu masalah, selalu sama dengan pikiran dan jiwa anak-anak. Pelaku utamanya juga anak-anak.
Novel Anak beserta pengarangnya dalam sastra Sunda, di antaranya:
·         Samsudi: Budak Teuneung, Budak Minggat
·         Tatang Sumarsono: Miang jeung Kaludeng, Si Paser.
·         Hidayat Soesanto: Guha Karang Legok Pari, Bima Rengkung, jeung seri carita wayang tina Mahabarata
·         Ahmad Bakri: Nu Sengit Dipulang Asih.
·         Aan Merdeka Permana: Tanah Angar di Sebambam, Kedok Tangkorek, Andar-andar Pangandaran, Paul di Pananjung Paul di Batukaras.
·         Adang S.: Budak Calakan, Neangan Bapa, Dang Umar ti Situraja.
2. Novel Remaja
Novel remaja adalah novel yang isinya menceritakan masalah-masalah remaja. Begitu juga pelaku utamanya adalah para remaja. Di sastra Sunda novel remaja tidak terlalu banyak.
Novel rumaja beserta pengarangnya dalam sastra Sunda, di antaranya:
·         Dedi D. Iskandar: Cinta Pabeulit.
·         Yoseph Iskandar: Rini.
·         Aam Amalia: Lalengse.
3. Novel Dewasa
Novel dewasa tentu ditujukan untuk bacaan orang yang telah dewasa. Isinya menceritakan masalah orang-orang yang sudah dewasa. Begitu juga dengan pelaku utamanya. Dalam sebagian novel ada bagian-bagian yang kurang pas apabila dibaca oleh anak-anak.
Novel dewasa beserta pengarangnya dalam sastra Sunda, di antaranya
·         Yuhana jeung Sukria: Rusiah nu Goreng Patut.
·         Moh. Ambri: Lain Eta.
·         Ahmad Bakri: Asmaramurka, Bedog Si Rajapati.
Berdasarkan tema dan masalah yang diceritakannya, novel Sunda bisa dibagi-bagi menjadi:
a.       Novel Silihasih
Novel silihasih adalah novel yang menceritakan cinta asmara para pelaku utamanya. Contoh:
·         Moh. Ambri: Lain Eta.
·         Eddy D. Iskandar: Cinta Pabaliut.
·         Aam Amalia: Lalangse.
·         Abdullah Mustapa: Mikung.
·         Syarif Amin: Manehna.
b.      Novel Kulawarga
Novel rumah tangga adalah novel yang isinya menceritakan masalah keluarga pelaku utamanya. Contoh:
·         R.A.F.: Pipisahan.
·         Aam Amalia: Puputon.
c.       Novel sosial
Novel sosial adalah novel yang isinya menceritakan masalah sosial, seperti ketidakadilan, atau gejolak sosial dalam satu waktu. Pelaku bisa menjadi berupa subyek, korban, atau saksi keadaan tersebut. Contoh:
·         Abdullah Mustapa: Lembur Singkur.
d.      Novel misteri
Novel misteri adalah novel yang isinya menceritakan hal-hal yang mengandung rahasia, yang biasanya terungkap di bagian akhir novel tersebut. Terutama yang menceritakan pencarian pelaku pembunuhan atau pelaku kejahatan lainnya. Contoh:
·         Samsu (Sambas jeung Susaka): Laleur Bodas.
·         Ki Umbara: Si Bedog Panjang.
·         Ahmad Bakri: Mayit dina Dahan Jengkol, Rajapati di Pananjung, Bedog Si Rajapati.
·         Margasulaksana: Rusiah Geulang Rantay.
·         Anna Mustikaati: Kalajengking.
e.       Novel sajarah
Novel sejarah adalah novel yang isinya mengandung unsur-unsur sejarah. Baik pelaku utamanya maupun kejadiannya menyangkut ke sejarah. Contoh:
·         R. Memed Sastrahadiprawira: Pangeran Kornel, Mantri Jero.
·         Yoseph Iskandar: Perang Bubat, Tanjeur di Juritan Jaya di Buana, Putri Subanglarang.
f.       Novel jiwa
Novel jiwa adalah novel yang isinya menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan jiwa pelaku utamanya. Contoh:
·         Ningtun Julaeha: Arca.
II.            PENGARANG NOVEL DAN KARYA-KARYANYA
1.      D.K. Ardiwinata: Baruang ka nu Ngarora.
2.      Joehana (sandiasma Ahmad Basyah): Carios Eulis Acis, Carios Agan Permas, Kalepatan Putra Dosana Ibu Rama, Kasuat ku Duriat, Mugiri, Neng Yaya, Rusiah nu Goreng Patut (jeung Sukria).
3.      R. Memed Sastrahadiprawira: Mantri Jero, Pangeran Kornel, Tresnasena jeung Nyi Putri Sedihasih (rekaan tina novel basa Walanda, De Roman van Tristan en Isolde).
4.      Muhammad Ambri: Lain Eta, Numbuk di Sue, Munjung, Ngawadalkeun Nyawa, Burak Siluman, Pusaka Ratu Teluh, Pependeman Nabi Sulaeman (tarjamahan tina basa Inggris King Solomon’s Mine karya Rider Haggard), Si Kabayan Jadi Dukun.
5.      Muhammad Sanusi: Siti Rayati, Sari Fatimah, Dibelaan Pegat Nyawa.
6.      Samsu (Sambas jeung Susangka): Laleur Bodas.
7.      Margasulaksana (sandiasma R. Iting Partadiredja): Diarah Pati, Rusiah Geulang Rantay.
8.      M.A. Salmun: Gogodan ka nu Ngarora.
9.      Yus Rusamsi: Randa Bengsrat, Dedeh, Wilujeng Enjing.
10.  Ki Umbara: Si Bedog Panjang, Si Lamsijan Kaedanan.
11.  Ahmad Bakri: Nu Sengit Dipulang Asih, Payung Butut, Juragan Batik, Potret, Rajapati di Pananjung, Mayit dina Dahan Jengkol, Kabandang ka Kuda Lumping, Srangenge Surup Manten, Sanghiang Lutung Kasarung, Asmaramurka, Bedog Si Rajapati.
12.  Syarif Amin: Manehna, Nyi Haji Saonah, Kembang Patapan, Babu Kajajaden.
13.  R.A.F.: Pipisahan, Bentang Lapang, Nu Kaul Lagu Kaleon.
14.  Min Resmana: Neangan Bapa, Imahnu Rea Kamarna.
15.  Aam Amalia: Puputon, Buron, Samagaha, Asmara Ngambah Sagara, Lalangse, Kalajengking (sandiasma Anna Mustikaati).
16.  Abdullah Mustapa: Mikung, Lembur Singkur.
17.  Eddy D. Iskandar: Cinta Pabaliut.
18.  Yoseph Iskandar: Rini, Perang Bubat, Tanjeur di Juritan Jaya di Buana, Putri Subanglarang.
19.  Adang S.:  Ngepung Kahar Muzakar, Juragan Kabayan, Budak Calakan, Neangan Bapa, Dang Umar ti Situraja.
20.  Ningrum Julaeha: Arca, Halimun Mungkur.
21.  Usep Romli HM: Bentang Pesantren.


Sanjaya, Rizki. Novel Dalam Kesusastraan Sunda. Melalui http://rizkimasbox.blogspot.com/2013/01/novel-dalam-kesusastraan-sunda.html. Diakses Hari, 00 Bulan 0000.

                                                                    DAFTAR PUSTAKA
Badudu, J.S. 1984. Sari Kesusastraan Indonesia 2. Bandung: CV. Pustaka Prima.
Budiarti, Rani M. 1987. “Analisis Struktur Novel Potret Karya Ahmad Bakri”. Skripsi. Bandung: Fakultas Ilmu Budaya Unpad.
Garnati, Tantri. 1989. “Tokoh-tokoh Utama Wanita Dalam Delapan Novelet Karya Aam Amalia”. Skripsi. Bandung: Fakultas Ilmu Budaya Unpad.
Hudayat, Asep Yusuf. 2012. Novel Sunda dalam Jaring Estetika Suara-Suara Kelas. Bandung: Syabas Books.
Rahayu, Budi, dkk. 1994. Pangajaran Sastra Sunda. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Rahmanto, Bernadus. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.
Rusyana, Yus. 1969. Galuring Sastra Sunda. Bandung: Gununglarang.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1987. Teori Kesusastraan. Jakarta: PT GRAMEDIA.



Jatinangor, Rabu, 02 Januari 2013
Rizki Sanjaya (Mahasiswa UNPAD, Fakultas Ilmu Budaya, Sastra Sunda 2012)




1 komentar: