22 May 2023

Layar Tancep 68: Nonton Bareng Sintas Berlayar

(youtube.com/@festivalfilmbudiluhu998)

Perkembangan radio telah banyak menemani perjalanan kita dari waktu ke waktu. Sebagai media komunikasi dan penyebaran informasi, radio bergerak melalui pengiriman sinyal yang dipancarkan oleh radiasi elektromagnetik. Di momen-momen tertentu, radio dianggap sebagai cara berkomunikasi paling stabil. Bahkan jangkauannya mampu mencapai wilayah pelosok.

Di era sekarang terutama di kota-kota besar, penggunaan radio mulai melemah. Namun sejatinya konsep dari siaran radio masih tetap eksis hingga sekarang. Perbedaan paling mencolok terdapat pada penggunaan frekuensi dan saluran. Kini konsep theater of mind dari radio, terukir melalui beragam siniar podcast yang bertebaran di banyak platform streaming digital.

Sebuah radio komunitas yang didirikan oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi Unpas, menyelenggarakan sebuah acara nonton bareng film di Bandung Creative Hub. Acara yang digelar di Ruang Auditorium pada Minggu, 21 Mei 2023 ini menjadi program menarik dari sekelompok mahasiswa yang bergerak di lingkup portal penyebaran informasi melalui radio.

Ditemui di area depan Auditorium, Fitiyan Zaky atau yang biasa disapa Jek, kami temui untuk berbincang mengenai event bernama Layar Tancep 68 ini. “Perkenalkan, saya Fitiyan Zaky. Biasa sih orang manggil saya Jek. Jabatan saya di Layar Tancep 68, atau disingkat LT68 ini sebagai project officer atau ketua pelaksana. Karena di Pasundan Radio semuanya pakai bahasa Inggris.”.

Pria yang juga mahasiswa Ilmu Komunikasi Unpas angkatan 2020 ini turut menjelaskan gambaran singkat tentang Layar Tancep 68. Menurutnya, event ini bisa disebut sebagai program kerja yang unik. Oleh karena gelaran serupa telah lama vakum di Pasundan Radio. “Dibilang program kerja iya. Dibilang event khusus juga iya. Jadi memang ini acara tahunan, tapi baru tahun ini ada lagi.”.

(Fitiyan Zaky/@creativehub.bdg)

Alasan di balik vakumnya Layar Tancep 68 di periode sebelumnya tak lepas dari perkembangan pandemi Covid-19 yang menghambat aktivitas rutin mereka. “Dua tahun sebelumnya vakum karena Covid juga. LT68 itu sebenernya gak terlalu ribet, gak terlalu susah, dan gak terlalu gampang juga bikinnya. Jadi kabinet-kabinet sebelumnya memilih tidak ada dulu si LT68 ini.”.

Sebagai project officer, dirinya merasa, terlalu lama membiarkan program mandek tentu tidak baik bagi Pasundan Radio. Oleh karenanya, dia bersama rekan, kembali menginisiasi gelaran tersebut di tahun ini. “Seperti kamu lihat sendiri, kita di sini mengundang orang-orang, mengundang narasumber, mengundang temen-temen umum juga yang datang. Itu yang kita inginkan, nonton barengnya.”.

(LT68/@creativehub.bdg)

Sebagai komunitas yang fokus pada radio, acara nonton film seperti ini boleh dikata hanya selingan. Begitu pun yang ditanggapi oleh Jek, kemunculan Layar Tancep 68 tak ubahnya obat bosan dari rutinitas yang itu-itu saja. “Sempat Pasundan Radio itu jenuh, masa kita acara musik mulu sih. Males gitu ke sana acara musik, ke sini acara musik lagi. Kita pingin yang baru gitu. Hadirlah Layar Tancep 68.”.

Ada hal unik di balik penamaan Layar Tancep 68. Jek menjelaskan jika angka 68 di sana, merujuk pada nomor alamat dari kampus tempat Pasundan Radio bernaung. “Layar Tancep 68 itu biasa kita singkat jadi LT68. Penamaan ini sesuai dengan alamat Kampus Unpas Lengkong, di Jalan Lengkong Tengah nomor 68. Nah itu, kita ngambilnya dari situ.”.

***

Layar Tancep 68 kali ini, menayangkan sebuah film dokumenter berjudul Sintas Berlayar. Jek menjelaskan alasan di balik pemilihan film dokumenter ini. “Kenapa Sintas Berlayar? Pertama, saya menargetkan ke yang lain itu harus film dokumenter. Kenapa saya menargetkan film dokumenter? Karena menurut saya film dokumenter itu banyak ilmu yang bisa didapatkan.”.

(youtube.com/@festivalfilmbudiluhu998)

Baginya film dokumenter seperti Sintas Berlayar memberikan banyak ilmu baru bagi para apresiator yang menyaksikannya. “Banyak insight baru yang kita tuh sebetulnya belum tahu. Nah, dokumenter itu biasanya film yang memang sudah ada isunya. Tapi kita tuh belum terlalu aware sama hal yang udah ada. Kenapa saya ngambil film ini? Nonton aja nanti sendiri, ya!”.

Meski hanya digelar satu hari, rangkaian acara yang tersaji di Layar Tancep 68 kemarin cukup padat. Ada beberapa penampilan pembuka sebelum masuk ke sesi inti. “Untuk rangkaian acara sendiri, tentu tidak di luar dari apa yang seharusnya muncul di radio. Pasti harus ada musik. Tadi kita udah mendengarkan seorang member dari Pasundan Radio nyanyi bareng di Auditorium.”.

Sajian pembuka di Layar Tancep 68 membawa situasi lebih cair. Penonton pun terhibur. “Alhamdulillah-nya fun juga. Setelah itu kita nonton bareng film Sintas Berlayar. Setelah itu ada review dari organisasi dan komunitas yang diundang. Terakhir baru kita bedah film sama sutradara dan juga film maker yang udah banyak bikin film, yang udah berpengalaman di bidang film.”.

(LT68/@creativehub.bdg)

Sesi terakhir Layar Tancep 68 diisi talkshow dari dua orang narasumber. Jek dan rekannya sengaja menyimpan sesi ini di akhir, untuk sama-sama membedah hal menarik dari balik Sintas Berlayar. “Yang pasti bakal ngebahas tentang Sintas Berlayar. Karena film ini menjadi salah satu nominasi Festival Film Indonesia, kategori film dokumenter dan film pendek terbaik.”.

Narasumber yang mengisi talkshow diisi oleh Deden M Sahid selaku film maker, serta Firgiawan selaku sutradara Sintas Berlayar. “Di situ ada Firgiawan sebagai sutradara, tujuannya biar kita tahu gimana perjalanan bikin filmnya. Terus kenapa saya milih Kang Deden? Saya tahu Kang Deden, orangnya berpengalaman di bidang film. Jadi yang merekomendasikan Sintas Berlayar ini juga Kang Deden.”.

***

Terselenggaranya Layar Tancep 68 tak lepas dari dukungan banyak pihak. Meskipun sebenarnya acara ini murni diinisiasi oleh Pasundan Radio. “Yang menginisiasi Layar Tancep 68 ini memang Pasundan Radio. Yang tadi aku bilang kalau ini udah jadi program kerja tahunan. Tapi untuk kali ini kita berkolaborasi atau meminta support juga kepada komunitas dan organisasi luar kampus.”.

Dukungan yang Jek maksud berasal dari banyak komunitas dan juga organisasi lintas kampus. Tentunya hal ini membuat rekan-rekan Pasundan Radio lebih bersemangat, terlebih mereka yang hadir turut mengisi jalannya acara. “Ada dari UMB, ISBI, dan juga dari UPI. Itu mereka di sini jadi pembicara juga sih, sebelum sesi diskusi bareng narasumber.”.

Acara yang digelar di lantai 3 Bandung Creative Hub ini dihadiri oleh banyak pihak. Terdiri dari pihak Pasundan Radio, tamu undangan, dan para penonton umum. “Acara ini dihadiri oleh member, alumni, dan pembina Pasundan Radio. Terus dari umum juga lumayan banyak. Terus dari komunitas-komunitas yang aku sebutin di awal kaya dari ISBI, dari UPI, dan juga dari UMB.”.

(Raisha Vanya/@creativehub.bdg)

Bandung Creative Hub dipilih oleh Pasundan Radio sebagai venue Layar Tancep 68. Ada beberapa alasan yang mendorong Jek selaku project officer memilih BCH sebagai venue pelaksanaan. “Kebetulan tahun sebelumnya kita melaksanakan screening LT68 di sini. Saya dapat rekomendasi dari project officer sebelumnya, Kang Hamzah. Dia yang ngebimbing saya untuk ini.”.

Jek berujar penggunaan Bandung Creative Hub cukup mudah. Hanya perlu ikuti alur pengajuan, selanjutnya tinggal memanfaatkan fasilitas kebanggaan Bandung ini. “Waktu itu Kang Hamzah bilang, ‘Sok aja dicoba di BCH lagi, gak ribet da perizinannya. Cuma ngasih administrasi aja surat-suratnya, gampang juga pengurusannya.’. Ya alhamdulillah aku juga ke sana nggak ini-itu, aman.”. (red/RS)


Penulis & Editor: Rizki Sanjaya

Reporter: Raisha Vanya Afrilia

Dimuat di Bandung Creative Hub Zine Volume 37

No comments:

Post a Comment